Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Senin, 21 April 2008

Tentang Sepakbola Indonesia

sekarang saya akan membahas mengenai almarhum Endang Witarsa.. Beliau sangat berjasa di sepakbola Indonesia.. (diambil dari wikipedia)


Drg. Endang Witarsa aka Liem Soen Joe or Liem Sun Yu, born 1916, former Indonesian National Soccer (PSSI) Coach and former national team player. While other grandfathers might have long surrendered to the comfort of their beds, Endang finds no place is more comfortable than the soccer field. From behind his glasses he watches the members of Jakarta's oldest football club, Union Makes Strength (UMS) in Tamansari, West Jakarta, from weak-footed beginners to professionals.

Having trained as a dentist, Endang soon discovered as a young man that his passion laid with soccer. He joined UMS in 1948 as a halfback. When he hung up his shoes in 1951, he became one of Indonesia's greatest ever coaches. Any soccer player or coach in the country would bow to him. UMS, the club that became Endang's second home, was founded in 1905 as the Tiong Hoa Hwee Koan Scholar Football Club. Later in 1914, it gained its current name. The club bred renowned national players who took Indonesia to its peak of football achievement, from the late 1960s to the early 1990s.

It has been some time since the country has seen its soccer teams be internationally successful, but Endang is unlikely to give up trying and training players until he takes his last breath. He got Lifetime Achievement Award from Badan Liga Indonesia (BLI) in October 2006 because of his dedication for nearly 70 years as player and most notably as a coach.

Witarsa died on April 2, 2008, at Pluit Hospital, Jakarta, due to the digestion problem.


Endang Witarsa berjasa besar bagi sepakbola nasional. Sayangnya sampai sekarang, sepakbola Indonesia masih jauh dari kemajuan.. tanggal 27 April timnas akan menghadapi Yaman di Stadion Siliwangi. Wah, nonton atuh euy.. di Bandung yeuh.. hehehe..
tentang sepakbola Indonesia, ini ada artikelku waktu SMA. Judulnya, "Dilema Persepakbolaan SMA" created by Luzman Karami in 2005.



Masih teringat dalam benak kita final Liga Indonesia tanggal 25 September lalu. Seru, penuh ketegangan dan sangat dramatis. Sebuah final yang membuat Piala Presiden kembali dibawa ke tanah Papua setelah menunggu selama 25 tahun. Stadion Gelora Bung Karno seolah menjadi saksi kehebatan Persipura Jayapura. Ya, malam itu Persipura berhasil mengandaskan perlawanan Persija Jakarta yang didukung ribuan Jakmania.

Malam itu memang milik warga Papua. Sayangnya malam itu ada sebuah kasus yang mencoreng persepakbolaan kita. Para Jakmania yang tidak menerima timnya dikalahkan begitu saja menyerang suporter Persipura yang jumlahnya sangat sedikit. Karuan saja suporter Persipura masuk ke dalam lapangan untuk menyelamatkan diri sekaligus merayakan keberhasilan timnya. Selain itu The Jak juga merusak beberapa fasilitas umum dan semapt bentrok dengan aparat kepolisian. Korban pun berjatuhan, satu orang Jakmania tewas. Sungguh sangat ironis. Padahal sebelum pertandingan kedua kesebelasan sempat bergandengan tangan dengan semangat fair play.

Jika kita melihat ke belakang, masih banyak rentetan kasus dalam persepakbolaan kita. Pada musim ini saja banyak sekali kasus, seperti kasus perkelahian antarpemain, kerusuhan antarsuporter, pemukulan terhadap wasit, dan lain sebagainya. Semuanya seolah menjadi santapan sehari-hari dan sudah mencadi ciri khas Liga Indonesia. Bahkan ada pameo yang mengatakan jika ingin bermain di Liga Indonesia harus memiliki kemampuan bela diri atau silat. Busyet, dah!



Selain itu, musim ini ada tren baru di Indonesia. Yaitu kasus sebuah tim yang mengundurkan diri sebelum bertanding. Kasus terakhir dialami Persebaya Surabaya. Tim ini mengundurkan diri dari babak 8 besar tepat sehari sebelum melawan Persija. Mereka melakukan itu dengan alasan para bonek di Jakarta tidak aman dan mendapat serangan dari Jakmania. Hal ini dianggap mencoreng fair play karena mematikan peluang PSIS dan PSM melaju ke final. Persebaya dihukum 2 tahun dilarang tampil di kompetisi manapun. Cukup adilkah keputusan PSSI? Mengapa Persija yang suporternya jelas-jelas berbuat kerusakan tidak dihukum?

Berkaca dari kasus-kasus di atas seharusnya seluruh insan sepakbola di Indonesia berintrospeksi. Liga Indonesia telah berlangsung selama 11 tahun, tetapi mengapa kasus-kasus seperti itu masih saja terjadi? Mengapa sepakbola kita bukannya semakin membaik, malah memburuk? Sayang sekali apabila bakat-bakat besar seperti Boaz Solossa, Mahyadi Panggabean, atau Christian Worabay harus tenggelam hanya karena Liga Indonesia yang tak kunjung membaik. Lihatlah bagaimana Bambang Pamungkas dan Ellie Aiboy yang justru berjaya saat berlaga di negeri orang.

Tahun 1938 Indonesia sempat lolos ke Piala Dunia meski saat itu membawa nama Hindia Belanda. Sanggupkah Indonesia kembali lolos ke Piala Dunia? Sanggupkah timnas kembali disegani minimal di kawasan Asia seperti yang dilakukan oleh Abdul Kadir cs saat merebut 4 besar SEA Games? Sebenarnya tak ada yang tak mungkin dalam sepak bola. Lihat di Benua Afrika. Tim-tim seperti Togo, Pantai Gading, Ghana, dan Angola dapat lolos ke Piala Dunia 2006 menghentikan dominasi Nigeria dan Kamerun. Alangkah indahnya apabila Indonesia dapat melakukan hal serupa, menghetikan dominasi Jepang dan Korea di Asia.

Ah, rasanya sulit melakukan hal itu di tengah kompetisi yang semakin tak jelas arahnya. Tahun 2007 Indonesia akan menjadi tuan rumah Piala Asia bersama Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Mungkin itulah satu-satunya kesempatan untuk menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Indonesia dapat melakukan “sesuatu”, dan dapat menjadi tuan rumah yang baik. Siapa tahu FIFA menunjuk Indonesia untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia karena itu satu-satunya cara agar Indonesia dapat lolos ke Piala Dunia.

Apakah persepakbolaan di Indonesia dapat membaik? Atau rentetan kasus kembali terjadi? Ah, capek rasanya memikirkan persepakbolaan nasional. Biarlah petinggi-petinggi PSSI yang menyelesaikannya. Lebih baik saya menikmati hidangan berbuka puasa yang sudah tersedia di atas meja.


Hmm.. itu tulisanku di tahun 2005. Dan ternyata, sampai tahun 2008 ini sepakbola Indonesia masih belum mengalami kemajuan. Yah, ketuanya aja tahanan, bagaimana bisa maju? Namun, sebagai warga negara Indonesia tentunya saya masih berharap Indonesia dapat kembali "berbicara" di kancah internasional. Aamiin..

1 komentar:

ada komentar? silakan tuliskan.. hatur nuhun
(kalo yg nggak punya blog pilih yang name/URL, URL-nya dikosongin aja, okay?)