Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Selasa, 16 September 2008

Milan yang Terpuruk

“Di kota Milan hanya ada dua klub, yakni Inter dan Inter Primavera” Itu adalah guyonan yang sering dilontarkan Interisti untuk memanas-manasi para Milanisti. Tapi guyonan tersebut bisa saja jadi kenyataan musim depan melihat prestasi Milan yang hancur lebur musim ini. Dua pertandingan, dua kekalahan. Dan kekalahan itu diperoleh dari tim-tim kecil yang seharusnya bisa ditaklukkan. Ini adalah sebuah sinyal buruk. Jika tak berbenah, bukan tak mungkin Milan akan terdegradasi musim ini.


Ada banyak hal yang membuat Milan begitu terpuruk di awal musim:

  1. Hasil buruk di pramusim. Dalam menghadapi tim-tim lain di Eropa Milan selalu kalah tanpa mencetak sebiji pun gol. Dimusnahkan Sevilla 0-1, dihancurkan Chelsea 0-5, dan dihempaskan Manchester City 0-1. Saat melawan tim ga jelas pun tetap kalah, dipermak Sporting Gijon dan Lugano dengan skor 0-2. Jelas sebuah pertanda buruk bagi Milan, tapi anehnya manajemennya santai-santai aja. Hasil buruk di pramusim secara psikologis dapat berdampak buruk bagi mental para pemain.
  2. Pelatih Carlo Ancelloti. Hanya bisa membawa Milan finish di posisi kelima musim lalu seharusnya pelatih ini udah dipecat, ditambah dua rekor kekalahan beruntun dari tim ecek-ecek di awal musim. Anehnya Milan masih mempertahankan pelatih ini. Roberto Mancini aja yang membawa Inter meraih hat-trick scudetto dipecat, masa Ancelloti yang gatot (gagal total) dipertahankan? Mau nunggu Milan degradasi dulu baru mecat Ancelloti? Ckckck…
  3. Para pemain tua. Milan hingga saat ini masih mengandalkan pemain-pemain tua yang berusia di atas 30 tahun. Lebih dari separuh pemain inti di Milan adalah para veteran. Anehnya, manajemen justru kembali mendatangkan para pemain tua seperti Ronaldinho, Shevchenko, dan Zambrotta. Haha.. udah tua mah ngapain main bola, mendingan main karambol ajah.. Wah, coba kalo Kaka dijual, pemain Milan semuanya di atas 30 tahun deh.. hehe..
  4. Kebijakan transfer yang aneh. Sejak dulu Milan senang membawa pemain yang gagal bersinar di klub lamanya. Contohnya Vieri yang sudah tak terpakai di Inter dan Ronaldo yang sudah tak bermain baik di Madrid. Dua pemain tersebut hanya sanggup bertahan di Milan semusim. Anehnya, musim ini Milan kembali melakukan kebiasaan tersebut. Ronaldinho dan Shevchenko yang sudah menjadi penghias bangku cadangan di klub lamanya justru didatangkan. Sebuah perjudian besar yang sampai saat ini belum membuahkan hasil.
  5. Ekspektasi yang terlalu berlebihan. Saat Ronaldinho didatangkan, Milanisti sangat berharap akan tercipta tridente maut Ka-Pa-Ro (Kaka, Pato, Ronaldinho) dan mengembalikan kejayaan di Italia dan Eropa. Nyatanya, trio Kaparo tak ada apa-apanya. Sangat berbeda jauh dengan pemain baru Inter, Ricardo Quaresma yang langsung mencetak gol di partai debut tanpa gembar-gembor yang begitu heboh seperti saat Milan mendatangkan dinho.



Ekspresi kesedihan banyak terjadi di Milan


Dua pertandingan, dua kekalahan, belum lagi ditambah kekalahan telak dari Inter di derby tanggal 28 September nanti (hehe.. ngarep nih..). Seharusnya Milan berbenah jika tak ingin degradasi. Soalnya kalo Milan degradasi, Inter bakal kehilangan salah satu korbannya. Milan kan tim yang paling getol memberikan poin bagi Inter. Empat pertemuan terakhir di Seri-A Inter sukses meraup 9 poin dari partai derby. Langkah awal sih, harusnya pecat ancelloti, jual kaka ke Inter.. hehe..

3 komentar:

ada komentar? silakan tuliskan.. hatur nuhun
(kalo yg nggak punya blog pilih yang name/URL, URL-nya dikosongin aja, okay?)