Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Kamis, 07 Januari 2010

Fanatisme Sempit dan Globalisasi Sepakbola


by Krome

Terlepas dari perbedaan “memilih klub”, sejatinya kita ini sama. Sama-sama “korban” dari globalisasi sepakbola. Ya, globalisasi sepakbola memang telah memunculkan orang-orang seperti kita ini. Tim sepakbolanya dimana??? Suporternya dimana!!! Lalu apakah hal tersebut salah??? Kalau berbicara salah atau benar tentunya sangat tidak pas. Yang perlu ditanyakan adalah, Untung atau rugi??? Hahaha… Bicara untung atau rugi disini tentunya tak sama dengan untung-ruginya bisnis.

Untung-rugi yang saya maksud disini bukanlah soal materi. Soal materi itu urusan lain, karena maksud saya disini adalah soal waktu, tenaga dan lainnya (kecuali materi tentunya). Berangkat dari hobi nonton bola atau main bola lalu kemudian kita mulai menekuni komunitas Interisti dan tentunya kita tak ingin kegiatan kita ini sia-sia belaka. Cobalah berfikir sejenak, keuntungan apa yang sudah kalian dapat setelah begabung dengan komunitas Interisti?? Kalau saya beruntung dapat menjalin persabatan dengan banyak kawan baru. Tak hanya itu, kini rasanya lebih afdol kalau saya menyebut diri saya sebagai Interista.

Selalu pikirkan sisi terbaik dari apa yang kita jalani sekarang. Saya sangat sedih ketika menyaksikan beberapa teman Interisti justru terjebak dalam fanatisme semu. Yang ujung-ujungnya malah menambah musuh. Balik lagi seperti yang tadi saya bilang sebelumnya, sejatinya kita ini sama. Sama-sama “korban” dari globalisasi sepakbola. Maka saya sangat mengharapkan banyak teman interisti lainnya yang mulai menunjukkan “taring”nya. Kalau yang jago main bola, ya dapat berprestasi atas nama komunitas kita, kalau yang mahir berkomunikasi maka dapat mempererat rasa kebersamaan sesama Interista dan masih banyak contoh lainnya. Intinya, saya mengajak teman-teman sekalian untuk bisa keluar dari keterbatasan kita selama ini.

Stop Fanatisme Sempit!
Interisti yang mengikuti sepak terjang inter sejak medio 90an adalah saksi dari keserakahan klub “lain” di serie a. Coba kamu cek distribusi juaranya, ada dua nama klub yang mendominasi. Ya ya ya.. akhirnya semua tahu kebenarannya dan setelah pengadilan olahraga italia menghukum perusak sepakbola italia tersebut, masih saja Inter di cap sebagai “bugs” serie a.

Oke sebelum melanjutkan tulisan ini, kita sepakat dahulu untuk menyebut klub yang dihukum dulu dan kini memusuhi Inter dengan istilah “mereka”. Fakta empat tahun terakhir ini tentunya sangat menggembirakan bagi kita interisti, namun tidak bagi “mereka”. Upaya “underground” mister moratti yang dulu membongkar adanya konspirasi wasit dengan klub tertentu disebut oleh mereka sebagai langkah kotor Inter untuk menjatuhkan pesaingnya. akal sehat manapun juga dapat mencernanya secara mudah… siapa yang bermain kotor, maling kok teriak maling.

Lalu setelah mereka menjalani hukuman, ternyata mereka malah membuat opini konyol dengan menuduh Inter mencuri gelar mereka. Maka bisa ditebak, perseteruan tak lagi panas di lapangan hijau saja. Media massa pun jadi ajang baru perseteruan konyol ini. Tidak hanya di italia, di indonesia pun kini perdebatan antar suporter pun semakin memanas, saling serang antar forum dan website kerap terjadi… dan yang memprihatinkan, di dunia nyata pun
perseteruan ini berujung dengan kekerasan.

Kebetulan, saat ada acara nonton bareng pada derby milano di jakarta saya sempat hadir. Dua kelompok supporter (Inter Club Indonesia dan Milanisti Indonesia) menggagas untuk mempertemukan puluhan anggotanya dalam acara nonton bareng. Apa yang saya
bayangkan tentang acara tersebut sebelumnya berbeda dengan kenyataannya.

Di sela rutinitas kegiatan padat mencari nafkah, tentunya saya berharap dapat berbagi kegembiraan dengan teman-teman interisti pada acara tersebut. Apa yang terjadi?
Belum pertandingan dimulai beberapa orang dari kelompok suporter MI malah sibuk
memprovokasi ICI dengan yel-yel kampungan. Wajarkah? Tidak!!! Kreatif? Not even close!!!
Menghibur??? Mungkin hanya bagi mereka. Saat pertadingan sudah disiarkan pada
layar besar, kelompok provokator tersebut juga tampak lebih sibuk melakukan flaming
kepada teman-teman interisti ketimbang menyaksikan pertandingan. Hasilnya,
adegan pelemparan gelas dan aksi dorong-mendorong menjadi tontonan saat gol inzaghi dianulir wasit karena telah terjebak perangkap offside. Satu korban jatuh dari interisti dengan luka berdarah di kepalanya. Saya mencatat dan menggaris bawahi kegiatan provokasi dan brutal ini bukanlah tindakan yang dewasa.

Fanatisme yang tidak dibarengi dengan akal sehat akan membuyarkan logika. Dan dalam konteks kebangsaan jelas ini bukan bibit yang bagus. Lalu, siapakah yang seharusnya menanggung malu? ICI yang jatuh korban atau “mereka”??? kemenangan Inter 2-1 atas milan bukan hanya menegakkan kepala interisti saat bubarnya acara tapi juga meyakinkan dalam hati setiap interisti yang hadir pada insiden tersebut bahwa mereka telah bertindak benar dengan tidak terprovokasi ulah suporter lawan. Sebuah catatan berharga bagi saya, bahwa saya berada di komunitas yang benar.

Berlanjut pada hari-hari berikutnya, perang kata terjadi di berbagai forum.. lama kelamaan, debat tak berujung ini hanya berisi ego yang bersifat personal. bahkan bahasa sampah mendominasi debat tersebut. Pihak MI memang sudah memberikan statemen (formalitas) bahwa mereka menyesal dan meminta maaf akan tetapi, jelas kita harus mencatat bahwa kemampuan mereka mengorganisir anggotanya masih di bawah level payah.

Ke depannya, insiden nonton bareng derby milano di jakarta hendaknya dapat menjadi pelajaran yang berharga jika kelak di kemudian hari situasi yang sama mungkin terjadi lagi, sempatkanlah
berfikir walau hanya hitungan detik sebelum bertindak. Semoga, komunitas interisti di indonesia dapat mencitrakan dirinya sebagai komunitas yang berbudaya, kreatif dan bermanfaat… bukan bar-bar!!
Amin.

Kini, apa yang diharapkan di awal musim sudah terwujud, inter berhasil mempertahankan gelar juara liga italia empat kali berturut-turut.Dan apa yang sudah terjadi ini baiknya tidak menjadikan kita besar kepala… bagaimanapun juga budaya timur yang santun dan cerdas harus tetap dipelihara. Tunjukan kerendah hatian seorang juara sejati kepada “mereka”. Dan kita biarkan “mereka” sibuk dengan air matanya.
SIAMO NOI, SIAMO NOI.. CAMPIONI D’ITALIA… FORZA INTER!!!

1 komentar:

ada komentar? silakan tuliskan.. hatur nuhun
(kalo yg nggak punya blog pilih yang name/URL, URL-nya dikosongin aja, okay?)