Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Senin, 29 Maret 2010

Juan Vargas "El Loco"


Boks Playmaker Juan Manuel Vargas

Boks 1: Benar-benar "Gila"

Bukan hanya bomber Persib Bandung, Cristian Gonzales saja yang mendapat julukan El Loco. Juan Vargas pun mempunyai julukan serupa. El Loco adalah julukan dari bahasa Spanyol yang berarti "Si Gila".

Lain halnya dengan Gonzales yang mendapat julukan El Loco karena kegilaannya di lapangan dalam mencetak gol, Vargas mendapat julukan tersebut karena sifatnya di luar lapangan. Mood-nya bisa berubah dalam sekejap.

“Aku rentan terhadap perubahan suasana hati. Aku bisa menghabiskan seluruh sesi latihan dengan tertawa dan bercanda, tapi setelah itu di ruang ganti aku mungkin merasa tidak enak untuk berbicara dengan siapa pun,” akunya sambil tersenyum.

Hal tersebut membuat teman-temannya menganggap Vargas benar-benar “gila” sampai-sampai dijuluki El Loco. Yah, asal kegilaan itu masih dalam taraf wajar, tentunya tak masalah. (Luzman)

Ayah Dua Putri
Kebahagiaan luar biasa pasti dirasakan Juan Vargas akhir tahun lalu. Sesaat setelah dirinya terpilih sebagai salah satu pemain terbaik Serie-A, istrinya Blanca Rodriguez melahirkan. Bayi mungil yang kemudian diberi nama Anica Rodriguez Vargas Leah itu lahir pada tanggal 28 Desember 2009 pukul 5 sore waktu Italia.

“Sore ini lahir Anica Rodriguez Vargas Leah, putri dari Juan Manuel Vargas, dengan berat 3 kg dan 900 gram. Selamat kepada semua fans Fiorentina,” demikian bunyi situs resmi klub, it.violachannel.tv.

Vargas dan istrinya pun sangat berbahagia. Kedua pasangan ini langsung merayakan liburan natal dan tahun baru dengan anggota keluarga baru. Kehadiran Anica membuat Vargas mempunyai dua putri. Putri pertama lahir pada 2007 dan diberi nama Luana.

“Aku senang dan bersemangat. Ini akan menjadi pesta yang menyenangkan,” kata pemain yang dijuluki El Loco itu sesaat setelah kelahiran putri keduanya. Ya, menjadi ayah dari dua buah hati tentunya dapat menjadi pelecut semangat bagi Vargas untuk terus berprestasi di lapangan hijau. (Luzman)

(Rubrik Playmaker Tabloid Soccer, Edisi 39/X, 27 Maret 2010)

Rising Star James McCarthy: Menepis Liverpool
Lahir: Glasgow (Skotlandia), 12 November 1990
No. kostum: 24 (Wigan Athletic)
Tinggi/ berat: 180 cm/ 72 kg
Klub: Hamilton Academical (2006-09), Wigan Athletic (2009-…)
Posisi: Midfielder


“Saya yakin dia akan memiliki karier yang bagus dalam sepak bola. Sekarang terserah pada kita untuk membinanya dengan hati-hati dan memupuk bakat yang benar-benar luar biasa yang jarang terjadi dalam hitungan bulan dan tahun,” manajer Wigan, Roberto Martinez.


Empat tahun lalu nyaris tak ada yang mengenal James McCarty. Maklum, dia hanya bermain di klub Divisi I Liga Skotlandia, Hamilton Academical. Setelah membawa Hamilton promosi ke Scottish Premier League, dia terpilih menjadi Scottish Premier League Young Player of the Year musim 2008-09 saat berumur 18 tahun.

Torehan prestasi itu membuat banyak klub kepincut. Salah satunya Liverpool. Namun dia justru memilih Wigan Athletic. Pada Juli 2009, dia resmi pindah ke Wigan dengan nilai transfer 1,2 juta pounds (Rp 16,5 miliar).

“Aku masih terlalu muda, 16 tahun saat itu. Jika aku pindah ke Liverpool aku akan terjebak dalam bangku cadangan dan tidak bermain banyak.” kata McCarthy.

Di Wigan, dia bisa mewujudkan mimpinya. Bermain di posisi sayap atau di belakang striker, McCarthy tak kesulitan menembus skuad utama Wigan lewat permainan apiknya. Dia tampak tak canggung menembus atmosfer Premier League.

Martinez pun tak ragu untuk terus memasangnya. Sejauh ini dia telah bermain dalam 13 pertandingan bersama Wigan, mencetak gol di Piala FA saat melawan Hull City dan Wolverhampton Wanderers di Premier League. McCarthy pun menjadi aktor kunci keberhasilan Wigan menekuk tim yang dulu pernah meminatinya Liverpool pada 8 Maret lalu dengan skor 1-0. (Luzman)



Rubrik Rising Star Tabloid Soccer Edisi 39/X, 27 Maret 2010

Sabtu, 27 Maret 2010

Ronaldo: Memburu Kesempurnaan


Cristiano Ronaldo: Memburu Kesempurnaan
Gelar Piala Dunia akan melengkapi kelebihan skill, kecepatan, dan teknik bermain yang dimilikinya.

Siapa pun tentunya takut ketika harus berhadapan dengan Cristiano Ronaldo. Skill bermainnya di atas rata-rata. Dia pun memiliki kelebihan dalam dribble dan tendangan kaki kanan. Kecepatan dan olah bolanya sungguh luar biasa. Berbagai prestasi telah diraihnya dalam usianya yang sangat muda, termasuk menjadi Pemain Terbaik FIFA 2008.

“Ronaldo lebih baik dari George Best dan Denis Law, yang merupakan dua pemain brilian dan hebat di Manchester United,” puji pemenang tiga kali Ballon d’Or, Johan Cruyff.

Castrol Ambassador, Marcel Desailly memberikan penilaian terhadap Ronaldo, “Ronaldo memiliki kecepatan dan skill yang hebat. Gerakannya yang tidak dapat diprediksi membuat dia sulit diantisipasi. Dia dapat menimbulkan ancaman di depan gawang dengan kedua kakinya yang sangat kuat. Sangat jarang pemain yang memiliki kualitas selengkap dia.”

Mengawali karir internasionalnya kala menghadapi Kazakhstan pada 2003, Ronaldo ikut memperkuat Portugal pada Piala Eropa 2004. Dalam turnamen tersebut Ronaldo mencetak dua gol kala menghadapi Yunani di babak penyisihan dan Belanda di babak semi final. Penampilan apiknya membuat namanya tercantum dalam Team of the Tournament.

Tahun demi tahun penampilan Ronaldo kian matang. Dia berada di urutan kedua top skor Pra-Piala Dunia 2006 Zona Eropa dengan torehan tujuh gol. Saat putaran final di Jerman, Ronaldo berperan besar membawa Portugal melaju hingga babak semi final dan nyaris meraih gelar pemain muda terbaik.

Sehari setelah ulang tahunnya yang ke-22, Ronaldo mendapat amanat untuk menjadi kapten timnas Portugal saat menghadapi Brasil, 6 Februari 2007. Jabatan tersebut diberikan oleh Presiden Federasi Sepak Bola Portugal, Carlos Silva yang meninggal dua hari sebelumnya.

“Tuan Silva mengisyaratkan saya untuk menunjuk Ronaldo menjadi kapten tim. Ronaldo memang terlalu muda untuk menjadi kapten. Saat itu Tuan Silva bertanya kepada saya, namun kini dia telah tiada,” jelas pelatih Portugal, Luiz Felipe Scolari.
Nyatanya dalam usianya yang begitu muda, Ronaldo sanggup menjadi kapten tim. Dia turut membawa Portugal menembus perempat final Piala Eropa 2008.

BELAJAR DARI FIGO
Kehadiran Ronaldo menjadi klop lantaran Portugal butuh mengisi pos kosong yang ditinggalkan Luis Figo. Berasal dari akademi yang sama Sporting Lisbon, kedua pemain ini sempat menjadi pemain terbaik dan termahal dunia. Posisinya dan jabatannya pun sama, sebagai winger dan kapten di timnas Portugal.

Figo dan Ronaldo pernah bersama-sama bermain di tim nasional, membawa Seleccao meraih runner-up Piala Eropa 2004 dan peringkat keempat Piala Dunia 2006. Dua kali tampil bersama, Ronaldo telah belajar banyak dari Figo. Sebagai penggedor dari sayap kanan dan pemimpin bagi rekan-rekannya di timnas.

“Sebelumnya, posisi sayap kanan menjadi milik Figo dan kostum nomor 7 menjadi kaus kebesarannya. Ronaldo diberikan nomor kostum 17, angka 7 kedua sekaligus menjadi deputi Figo,” jelas mantan wartawan Portugal dan penulis biografi Scolari, Jose Carlos Freitas.

“Sikap Figo kepada Ronaldo sudah lebih dari sekadar kapten maupun rekan satu tim. Figo seolah-olah telah mempersiapkan Ronaldo sebagai penggantinya. Ronaldo pun belajar darinya tapi juga telah menunjukkan kesiapan mental untuk menggantikan sang mentor. Figo tahu itu,” lanjut Freitas.

Kini menjadi tugas Ronaldo melanjutkan “Generasi Emas” Portugal yang telah diretas Luis Figo.
Tugas berat menanti Ronaldo di Piala Dunia nanti. Seleccao harus berjibaku di Grup G bersama Brasil, Pantai Gading, dan Korea Utara.
Ronaldo tentunya berambisi mengeluarkan segenap kemampuannya di Afsel nanti. Tentunya selain untuk membuktikan diri bahwa dia bisa lebih baik dari Figo, trofi Piala Dunia akan menyempurnakan prestasinya yang telah gemerlap. = Luzman

Fakta Ronaldo
Tempat/tanggal lahir: Funchal, Madeira (Portugal), 5 Februari 1985
Tinggi/berat: 186cm/75 kg
Klub: Real Madrid
Posisi: Winger, forward
Debut timnas: Portugal 1-0 Kazahstan, 20 Agustus 2003
Caps/gol: 69/22

Castrol Ranking
Posisi: 2
Poin: 973

Statistik Pra-Piala Dunia 2010
Main: 7
Menit bermain: 567
Gol: 0

Statistik di Piala Dunia
Partisipasi: 1 kali (Piala Dunia 2006)
Main: 6
Gol: 1
Prestasi terbaik: Semifinalis Piala Dunia 2006


Luis Figo
Pemimpin Generasi Emas
Tak berlebihan jika Luis Figo dinobatkan sebagai salah satu pemain terbaik yang pernah dimiliki Portugal. Sejak membawa Portugal U-20 meraih juara dunia pada 1991, dan memulai debutnya di timnas senior pada tahun itu juga, Figo menjelma menjadi pemain yang tak tergantikan.

Figo terhitung sukses memimpin “Generasi Emas” Portugal. Dia menjadi pemimpin bagi kumpulan pemain muda penuh talenta seperti Rui Costa, Ricardo Sa Pinto, hingga Victor Baia yang merupakan tulang punggung tim junior Portugal.

Tugasnya pun lebih dari sekadar kapten. Dengan kemampuan olah bola yang dimiliki, Figo menjadi dirigen dalam permainan indah Seleccao. Sebuah anomali dari timnas Eropa kebanyakan yang mengandalkan teknik dan speed. Tak heran, julukan "Samba-nya Eropa" melekat kuat pada Figo cs pada medio 1990.

Figo memainkan peran utama dalam setiap kejuaraan yang diikuti Portugal dari mulai Piala Eropa 1996, Piala Eropa 2000, Piala Dunia 2002, Piala Eropa 2004, dan Piala Dunia 2006. Dianya hanya dua kali gagal meloloskan timnya ke Piala Dunia, yakni pada 1994 dan 1998.

Prestasi terbaik Figo bersama timnas Portugal ialah kala meraih gelar runner-up Piala Eropa 2004. Sebenarnya Seleccao yang berstatus tuan rumah berpeluang besar menjadi juara. Namun sayang di partai puncak mereka harus mengakui keunggulan tim kuda hitam Yunani 0-1. Setidaknya itulah prestasi terbaik Portugal di ajang Piala Eropa.

Pada Piala Dunia 2006, Figo membawa Portugal melaju hingga babak semi final untuk pertama kalinya dalam 40 tahun terakhir. Walaupun akhirnya harus takluk dari tuan rumah Jerman pada perebutan tempat ketiga, Figo tetap harus berbangga. Figo terhitung sukses memimpin rekan-rekannya meraih prestasi terbaik di Piala Dunia sejak era Eusebio pada 1966. Dia pun terpilih dalam skuad All-Star Piala Dunia 2006.

Rentetan gelar individu pun berhasil diraihnya. Kapten timnas Portugal ini sukses meraih dua penghargaan bergengsi, Ballon d’Or 2000 dan Pemain Terbaik Dunia 2001. Pada 2004 namanya pun tercantum dalam FIFA 100.

Rekor lain yang ditorehkan Figo ialah menjadi Pemain Terbaik Portugal pada 1995, 1996, 1997, 1998, 1999, dan 2000. Dia juga mencatat penampilan terbanyak untuk negaranya. Hingga penampilan terakhirnya di semifinal Piala Dunia 2006 menghadapi Prancis, Figo telah membela Portugal sebanyak 127 kali. Sebuah hal luar biasa untuk pemain yang berasal dari negara "kelas dua" Eropa. (Luzman)


Fakta Figo
Tempat/tanggal lahir: Almada (Portugal), 4 November 1972
Posisi: Winger, Atacking Midfielder
Debut timnas: Luksemburg 1-1 Portugal, 16 September 1991
Caps/gol: 127/32

Statistik di Piala Dunia
Partisipasi: 2 kali (Piala Dunia 2002 dan 2006)
Main: 10
Gol: 0
Prestasi terbaik: Semifinal Piala Dunia 2006

Rubrik Road to World Cup 2010: The Next Legend vs Legend, Tabloid Soccer Edisi 39/X

Senin, 22 Maret 2010

Samir Nasri: Baca Al-Fatihah Sebelum Tanding


Boks Playmaker Samir Nasri
Boks 1: Baca Al-Fatihah sebelum Tanding


Saat ini skuad Prancis memang banyak dihuni pemain-pemain Muslim. Mulai dari Karim Benzema, Franck Ribery, Hatem Ben Arfa, Nicolas Anelka, dan tentunya Samir Nasri.

Pemain yang dijuluki The New Zidane ini tampak selalu menengadahkan tangannya sesaat sebelum pertandingan layaknya umat Muslim. Saat melaksanakan ritual itu dia memanjatkan doa dan Al-Fatihah meminta kepada Allah SWT agar diberi kemudahan dalam bertanding.

Namun, tidak seperti rekannya Benzema dan Anelka, dia memilih untuk tidak berpuasa pada bulan Ramadhan lalu. Cuaca yang panas dan kompetisi yang padat membuat dia merasa tak sanggup untuk berpuasa.

“Aku tidak akan berpuasa pada bulan Ramadhan. Berpuasa sulit dilakukan saat musim panas. Dan dengan pertandingan demi pertandingan yang akan dijalani, itu tidak baik bagi tubuh,” kata pemain yang menggemari Angelina Jolie ini kepada fifa.com.
(Luzman)

Boks 2: Dekat dengan Tatiana Golovin
Dalam memilih pasangan, ternyata Nasri tertarik kepada sesama olahragawan. Adalah Tatiana Golovin, petenis Prancis berdarah Rusia yang dapat menarik hati Nasri. Keduanya mulai berhubungan sejak Mei 2008.

Kisah asmara mereka terungkap dalam majalah Prancis, Gala lewat foto lengkap dengan pemberitaan eksklusif. Nasri kaget ketika hubungannya diekspos. “Ketika kami pertama kali berkencan, langsung muncul pemberitaan besar-besaran di berbagai media, namun sekarang sudah mulai mereda,” kata pemain berdarah Aljazair itu. “Saat kembali ke Marseille, para suporter benar-benar luar biasa dan bergairah ketika mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan pemain, terutama ketika ada sesuatu yang berjalan tidak seperti biasanya, mereka akan bertanya,” lanjutnya.

Kini Nasri dan Tatiana dikabarkan tinggal bersama di daerah Hampstead, London Utara. Berbeda dengan di Marseille (Prancis), saat di London (Inggris), Nasri jarang digosipkan. “Di sini orang-orang menjaga jarak, segalanya berjalan lebih tenang, dan orang-orang lebih hormat,” aku Nasri.

Liburan musim panas lalu kedua pasangan ini kedapatan tengah berlibur di Pantai Miami, Florida (AS). Mereka bersama-sama dengan Djibril Cisse dan istrinya Jude Littler. (Luzman)

Rubrik Playmaker Tabloid Soccer Edisi 38/X, 20 Maret 2010

Juan Alberto Schiaffino: Kalahkan Brasil


Membela dua tim nasional, Uruguay dan Italia, nama Juan Alberto Schiaffino lebih dikenal sebagai legenda Uruguay. Hal itu karena dia sanggup membawa Uruguay menjadi juara untuk kedua kalinya dengan mengalahkan tuan rumah Brasil di Piala Dunia 1950. Prestasi yang sampai saat ini belum bisa diulang lagi.

Perjalanan Uruguay kala itu tak begitu rumit. Saat itu Skotlandia dan Turki mengundurkan diri. Alhasil, Uruguay hanya memainkan satu pertandingan melawan Bolivia. Partai ini dimenangkan Uruguay dengan telak, 8-0 sehingga mereka lolos ke babak selanjutnya atau final pool. Schiaffino ikut menyumbang dua gol dalam laga itu.

Sebagai catatan, Piala Dunia 1950 memang tergolong unik. Tak ada babak semifinal dan final. Setelah fase grup, tim yang lolos melaju ke fase final pool. Di sana empat tim yang lolos berlaga dalam satu grup.Tim yang meraih poin tertinggi akan keluar sebagai juara.

Meski memakai sistem grup, laga penentuan juara mempertemukan Uruguay dan Brasil. Selecao punya modal lebih meyakinkan dengan meraih dua kemenangan besar sebelum bertemu Uruguay. Apalagi Brasil hanya butuh hasil seri di depan para pendukungnya.

Alberto Schiaffino cs harus berhadapan dengan sekitar 199.954 penonton yang memadati Stadion Maracana, Rio de Janiero. Gelar juara nampaknya akan menjadi milik Brasil setelah Friaça mampu membawa Brasil unggul pada menit ke-47. Namun Schiaffino akhirnya mampu mencetak gol penyama yang membuat kedudukan menjadi 1-1. Akhirnya, ditambah gol Ghiggia, Uruguay memastikan diri juara.

Sukses Uruguay menaklukkan Brasil di Maracana menggemparkan dunia. Bahkan itu adalah salah satu hal paling mengejutkan sepanjang 1950. Dunia menyebutnya sebagai Maracanazo. Sebuah istilah bahasa Portugis yang berarti tamparan hebat di Maracana.

Piala Dunia 1954, Schiaffino kembali tampil. Namun sayang torehan dua golnya gagal membawa Uruguay kembali ke tahta juara. Dia cedera pada babak semi final, sehingga Uruguay harus takluk dari Hungaria. Uruguay akhirnya hanya bisa finish di posisi keempat.

Kegemilangannya membuat AC Milan membeli pemain Penarol itu dengan bayaran 72.000 pounds sesaat setelah Piala Dunia 1954. Nilai yang membuatnya menjadi pemain termahal dunia kala itu.

Karena kehebatannya di lapangan itu pula maka pemerintah Italia memintanya memperkuat Gli Azzurri. Schiaffino bersedia dan mengganti kewarganegaraannya menjadi Italia. Tapi, hanya empat pertandingan Schiaffino bermain untuk timnas Italia. Luzman

Fakta Schiaffino
Tempat/tanggal lahir: Montevideo, 28 Juli 1925
Posisi: Striker
Debut timnas Uruguay: Uruguay 1-1 Brasil, 10 Januari 1946
Caps/gol: 21/8
Statistik di Piala Dunia
Partisipasi: 2 kali (Piala Dunia 1950, dan 1954)
Main: 9
Gol: 7
Prestasi terbaik: Juara Piala Dunia 1950

Rubrik Road to World Cup: The Next Legend vs Legend, Tabloid SOCCER Edisi 38/X, 20 Maret 2010

Minggu, 21 Maret 2010

Tak Ada Lagi Dominasi


Bosan. Itulah yang ada dalam benak saya setiap menyaksikan Liga Champions dalam tiga musim terakhir. Selain karena tim favorit saya, Inter selalu saja kandas di babak 16 besar, wakil-wakil Inggris selalu saja mendominasi. Tiga klub Premier League selalu saja mendomìnasi babak semì final. Liga Champions cenderung membosankan dan mudah ditebak.

Untunglah dominasi itu perlahan mulai pudar. Diawali dengan tersingkirnya jawara 5 kali Liverpool di babak penyisihan, ditambah tersingkirnya Chelsea di babak 16 besar oleh Inter, praktis Inggris tinggal menyisakan dua wakilnya saja. Sesuatu yang tidak pernah terjadi tiga musim sebelumnya.

Hal menarik lainnya, klub-klub dengan pengoleksi gelar Liga Champions terbanyak: Madrid (9), Milan (7) dan Liverpool (5) semuanya telah tersingkir. Praktis saat ini peraih gelar terbanyak yang masih ada hanyalah Bayern Muenchen dengan empat gelarnya. Itu pun lolos berkat gol kontroversial Miroslav Klose. Terbukti, tak ada gunanya membangga-banggakan sejarah masa lalu sebab hal itu sama sekali tak bisa menolong.

Kejutan terbesar muncul dari wakil Prancis. Mereka sanggup meloloskan dua wakilnya, sama dengan jumlah wakil Inggris. Hebatnya, kesuksesan mereka dilakukan dengan melewati klub yang lebih diunggulkan. Bordeaux secara perkasa melewati hadangan Bayern Muenchen dan Juventus di babak penyisihan. Lyon membuat Liverpool menangis tersingkir dari grup dan menjungkalkan Madrid di babak 16 besar.

Yang jelas, dengan masing-masing dua wakil bagi Inggris dan Prancis serta satu wakil bagi empat negara lainnya tak akan lagi ada dominasi seperti tiga musim sebelumnya. Bisa dibilang inilah Liga Champions yang sesungguhnya.

Setelah melihat pengundian, klub favorit saya Inter hanya akan bertemu CSKA di perempat final. Jika konsisten Inter berpeluang merebut gelar yang terakhir diraih 46 tahun silam.. Inter vs MU adalah final ideal

Kebangkitan klub negeri anggur
writer: my girlfriend, Sri Lestari

Kehidupan bak roda yang berputar. Kadang di atas kadang di bawah. Kadang berada di puncak kebahagiaan, kadang di lembah keterpurukan. Begitu juga yang dialami klub Prancis. Taun ini bisa dibilang fase kebangkitan klub Prancis di pentas Eropa. Mungkin sebagian besar kalangan meragukan Prancis mampu meloloskan wakilnya ke babak 8 besar UCL melebihi Spanyol, Italia, atau pun Jerman. Kejutan pun terjadi. Seolah ingin menjawab keraguan tersebut, Lyon dan Bordeaux sukses melenggang ke babak 8 besar UCL. Tentunya Prancis tengah merasakan euforia saat ini. Sementara Italia, Spanyol, dan Jerman hanya mengirim masing-masing 1 delegasi ke quarter final UCL. Prancis pun mampu mengikuti jejak Inggris dengan meloloskan 2 wakil.

Jika bicara tentang pamor, sebenarnya Liga Prancis masih kalah dari Liga Spanyol, Liga Italia, dan Liga Prancis. Namun nampaknya, Prancis enggan diam begitu saja. 2 klub di 8 besar UCL dan 2 klub di 16 besar Europa League seolah menegaskan bahwa Prancis bertekad kuat untuk menguapkan keraguan-keraguan yang ada. Mereka tak ingin terus-terusan tiarap di kancah Eropa. Lebih dari 1 dekade terakhir, tak ada klub Prancis yang mampu menjadi kampiun UCL. Sungguh waktu yang tak singkat.

Hegemoni Prancis nampaknya akan berlanjut hingga semifinal UCL. Setidaknya 1 tiket semifinal sudah berada dalam genggaman klub Prancis karena Lyon akan bersua dengan saudara senegaranya, Bordeaux. Dan tentunya Prancis tak berharap langkah mereka hanya sebatas di semifinal saja. Target final mungkin diusung tinggi-tinggi untuk terus mengatrol konfidensi mereka agar tak terus-menerus berada di bawah bayang-bayang Liga Inggris, Liga Italia, maupun Liga Spanyol.

Yups, yg dialami klub Prancis adalah salah satu contoh bahwa kehidupan bak roda yang berputar. Roda kehidupan memang akan terus berputar. Di kala kita tengah dalam puncak kebahagian, janganlah angkuh karena suatu saat bisa saja kita dilanda kesedihan. Di kala keterpurukan menghujam, janganlah patah arang. Semangat untuk bangkit harus selalu kita hadirkan dalam kehidupan kita.


Kamis, 18 Maret 2010

Eljero Elia: Mimpi ke Afrika Selatan


Sangat jarang pemain muda sukses menjadi pemain inti sebuah klub besar. Apalagi klub tersebut mempunyai peluang untuk meraih juara di liganya. Namun anggapan tersebut dimentahkan oleh Eljero Elia. Striker asal Belanda itu sukses menembus jajaran pemain inti di Hamburg, yang sementara ini bercokol di peringkat kelima Bundesliga 1.

Melihat performanya di lapangan cukup wajar Elia mendapatkan hal tersebut. Pada 2009 lalu, pemain yang memulai kariernya di ADO Den Haag itu mendapat predikat Dutch Football Talent of the Year. Penampilan gemilangnya bersama Twente membuat raksasa Bundesliga, Hamburg membelinya pada musim panas 2009.

Sejak bergabung dengan Hamburg, permainan Elia terus berkembang. Pemain 22 tahun ini punya keseimbangan dalam bertahan dan menyerang. Kecepatan menjadi salah satu ciri khas dalam permainannya.

Berkat performa gemilangnya, kepercayaan diri Elia bertambah. Ambisi untuk menjadi bagian dari skuad De Oranje di Piala Dunia 2010 pun dicanangkan. “Piala Dunia di Afrika Selatan ada di kepalaku setiap hari. Itulah salah satu tujuan utamaku saat ini. Aku ingin memenangkan gelar dengan Hamburg dan menjadi bagian dari skuad Belanda di Piala Dunia Aku bisa melakukan itu jika terus tampil di puncak performa” kata Elia.

Melihat performa yang semakin meningkat dari sang pemain bukan tak mungkin Elia menjadi bagian dari skuad Bert van Marwijk dan memperkuat De Oranje di Piala Dunia 2010 nanti. = Luzman

Fakta Elia
Lahir: Voorburg (Belanda), 13 Februari 1987
Tinggi/berat: 176 cm/ 70 kg
Nomor kostum: 11 (Hamburg)
Karier klub: ADO Den Haag (2004-07), FC Twente (2007-09), Hamburg (2009-…)
Posisi: winger
" Elia benar-benar merupakan pemain besar dan bermain luar biasa. Dia datang dari bangku cadangan saat half time dan langsung memainkan peran utama dalam kebangkitan kami setelah turun minum. Energinya sangat penting untuk hasil yang baik," Bert van Marwijk, pelatih Belanda
Rising Star Tabloid SOCCER Edisi 38/X, 20 Maret 2010


Futsal ground

Nirwana Futsal

Dari Bioskop ke Arena Bertanding

Saat ini cukup sulit untuk mencari lahan kosong di Jakarta. Diperlukan kreativitas untuk memanfaatkan lahan dan kesempatan yang ada. Hal itulah yang melatarbelakangi dibentuknya Nirwana Futsal di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan.


Pada awalnya, tempat ini merupakan bioskop yang kerap disalahgunakan menjadi lokasi prostitusi. Sadar hal itu cukup meresahkan masyarakat, pemilik lahan yakni Lukman Arifin dan Jansen Sinambela memutuskan untuk membangun tempat futsal. Diyakini lapangan futsal jauh lebih baik dibandingkan bioskop. Sambutan dari masyarakat setempat pun sangat baik.


“Selain pertimbangan bisnis, niat kami membangun tempat futsal juga karena kami peduli dengan generasi muda dan pertimbangan bahwa di Pasar Minggu belum ada tempat bermain futsal,” ungkap Jansen.


Nirwana Futsal memiliki empat lapangan yang berjenis rumput sintetis dengan ukuran 15 x 25 meter. Karena baru dalam tahap soft opening pada Februari lalu, fasilitas yang ada masih dalam tahap pembangunan. Kamar ganti, toilet, kantin, shower, dan mushola masih belum siap digunakan 100 persen.


Setelah masa promosi pada 8-11 Februari, saat ini sudah berlaku tarif umum. Bagi member dan anak sekolahan akan mendapat diskon khusus. Mudah-mudahan saja dari bioskop yang “disulap” menjadi lapangan futsal ini akan lahir bakat-bakat handal. (Luzman)

Fasilitas

Ada

Tidak

Tribun Penonton

V

Kamar ganti khusus

V

Kamar mandi

V

Shower air panas/dingin

V

Mushola

V

Kantin

V

Hot spot

V

Parkir Mobil

V

Parkir Motor

V

Tarif umum

Lapangan sintetis

- 17.00 – 00.00 Rp 250.000 per jam

- 07.00 – 17.00 Rp 150.000 per jam

Kenyamanan

- Berada di daerah keramaian dan lokasinya mudah dikenal masyarakat

- Empat lapangan dengan rumput sintetis bertandar internasional

- Fasilitas sport area seperti kolam renang, waterboom, dan lain-lain (masih dalam tahap pembangunan)

Suara pelanggan

“Bermain di sini cukup nyaman. Namun sayang penerangan di sini terlalu terang sehingga sedikit menyilaukan,” Setya, pengunjung.

How to get there?

Nama: Nirwana Futsal

Alamat: Jl. Raya Ragunan, Depan Pasar Minggu, Jakarta Selatan

à Naik angkutan umum jurusan Pasar Minggu. Turun di Pasar Minggu, jalan kaki melalui samping Toko Sepatu Ebony.


Rubrik Futsal Ground, Tabloid SOCCER Edisi 38/X, 20 Maret 2010

Sabtu, 13 Maret 2010

Cacau: Mantan Pedagang Asongan


Box Playmaker Cacau

Box 1: Mantan Pedagang Asongan
Sebelum mengadu nasib ke Jerman, Cacau sangat akrab dengan kemiskinan. Dia tidak berasal dari keluarga berada. Menurut dia, uang adalah sesuatu yang langka dalam kehidupan mereka. Dia bahkan sempat menjadi pedagang asongan, berjualan minuman kaleng di pinggir jalan.

"Saat Natal dan Tahun Baru, banyak mobil yang menuju pantai melewati kampungku. Itu membuat kemacetan yang sangat parah. Bayangkan, deretan mobil yang terjebak macet bisa mencapai 45 km. Berjualan minuman jelas bisnis yang bagus," kisah Cacau.

Kesulitan itu dipahami betul oleh sang ibu. Melihat Cacau bersama kedua saudaranya, Ademir dan Vladimir, sering bermain bola di jalanan, dia menyuruhnya menjadi pemain profesional. "Ibuku bilang aku harus menjadi pemain sepak bola. Hanya dengan itu aku bisa mendapatkan banyak uang," aku Cacau.

Tetapi itu ternyata tidak mudah. Cacau sempat ditolak Palmeiras saat berumur 16 tahun. Pelatih klub itu menilainya tak begitu istimewa. Namun, dia tak patah semangat. Dia selalu berdoa dan berusaha. Pada akhirnya, Tuhan menjawab permohonannya.

Lewat perantaraan Osmar de Oliveira Moreira, sepupu pelatihnya, Mogi das Cruzes, Tuhan membimbing Cacau. Osmar adalah penyanyi sekaligus pendiri band Tuque Samba Brasil yang berada di Jerman. Dialah yang lantas membawa Cacau ke Jerman.

Cacau lantas bergabung dengan klub Divisi V, Turk Gugu Muenchen, lalu pindah ke tim amatir 1 FC Nuernberg. Performanya membuat Klaus Augenthaler, pelatih tim senior Nuernberg terpikat. Cacau lantas dikontrak dengan gaji 2.500 euro (Rp 31,4 juta). Sejak saat itulah uang tak jadi menjadi barang langka baginya. (Luzman)

Box 2: Gara-gara Salah Sebut
Bagaimana bisa Claudemir Jeronimo Barreto dipanggil Cacau? Itulah pertanyaan yang berkecamuk di benak banyak orang. Salah besar jika ada yang menganggap itu dikarenakan Cacau suka makan cokelat. Menurut pengakuannya kepada Majalah So Foot, itu terjadi gara-gara sebuah insiden yang terjadi pada perayaan ulang tahun keduanya.

"Di Brasil, kami biasa bernyanyi ketika merayakan ulang tahun. Nah, saat berumur dua tahun, aku harus menyanyikan nama asliku, Claudemir. Tapi aku tak bisa melafalkannya dengan baik. Malah Cacaudemir yang keluar dari mulutku. Sejak saat itulah ibuku dan teman-temanku selalu memanggilku Cacau," kisah dia.

Kini, nama itu bakal terpatri dalam buku sejarah timnas Jerman. Pasalnya, dia menjadi pemain pertama yang menggunakan nama panggilan di kostumnya. (Luzman)

dimuat di rubrik Playmaker Tabloid Soccer Edisi 37/X, 13 Maret 2010




Leonardo Bonucci: Pengganti Nesta

Saat hendak menghadapi Kamerun, allenatore Gli Azzuri, Marcello Lippi resah. Sebabnya Alessandro Nesta enggan kembali ke timnas. Bujukan terakhirnya tak mempan meluluhkan hati defender AC Milan itu. Namun, begitu laga usai, Lippi tampaknya bisa bernapas lega dan segera melupakan Nesta. Soalnya, debutan Alessandro Bonucci bermain sangat apik.

Meski bermain dengan formasi 3-4-3 yang tak begitu dikenalnya, Bonucci tampil solid bersama Fabio Cannavaro dan Giorgio Chiellini. Baik dalam duel satu lawan satu maupun perebutan bola udara, Bonucci tampil oke. Berkat kelugasannya, striker Samuel Eto'o tak berkutik.

Bonucci mengaku sangat gembira. "Aku harap ini menjadi titik awal. Aku selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik dan menjadi diri sendiri. Aku akan bekerja keras untuk timnas," ungkap Bonucci.

Performa apik defender asal Bari itu pun menuai pujian dari banyak pihak. Tak terkecuali Lippi. "Bonucci bermain dengan karakter dan kualitas tinggi. Selain Andrea Cossu, dia membuat saya puas," puji dia.

Pemain yang kerap dibanding-bandingkan dengan Giuseppe Bergomi karena postur dan karakter permainannya itu kini memiliki peluang besar untuk tampil di Piala Dunia.

Bonucci pribadi sangat memimpikan hal itu. "Aku terus bermimpi dan berharap itu berlanjut sampai Piala Dunia," kata dia. "Soal Nesta, aku tak peduli. Satu hal yang pasti, aku akan berjuang keras dari pekan. Setelah itu, semuanya terserah pelatih. Putusan ada di tangannya." (Luzman)

"Saya rasa Bonucci dapat pergi ke Piala Dunia dan bermain baik. Dia memiliki talenta dan masa depan cerah karena selalu ingin berkembang lebih baik dari waktu ke waktu."
Pelatih Bari, Giampiero Ventura
Fakta Bonucci
Lahir: Viterbo (Italia), 1 Mei 1987
No kostum: 19 (Bari)
Tinggi/berat: 190 cm/ 82 cm
Klub: Inter Milan (2006-07), Treviso (2007-09), Pisa (2009), Bari (2009-...)
Posisi: Defender

Kabar terakhir: Bonucci lebih berpeluang ke Inter daripada ke Juventus. Bonucci dulu memang sempat menjadi tim Primavera Inter dan bermain di skuad utama Inter beberapa kal ihttp://duniasoccer.com/Duniasoccer/Internasional/Liga-Italia/Serie-A/News/Bonucci-Lebih-Berpeluang-ke-Inter
dimuat di Rubrik Rising Star Tabloid Soccer Edisi 37/X, 13 Maret 2010

Jumat, 12 Maret 2010

Alfred Riedl: Raja Midas Asia Tenggara


Alfred Riedl, sosok yang kini menjadi pelatih timnas Indonesia itu dulu sempat dikenal sebagai striker andal kala menjadi pemain. Riedl mengawali karirnya di klub Austria Vienna pada 1967. Dalam 98 penampilannya bersama Vienna dia sukses mencetak 58 gol, dan turut membantu klub itu meraih gelar Bundesliga pada 1969 dan 1970 serta Piala Austria pada 1971. Setahun berselang, gelar top skor disandangnya.

Ketajamannya berlanjut kala memperkuat klub Belgia, Sint Truiden dan Royal Antwerp. Dia sukses menyabet gelar top skor Jupiler League pada 1973 dan 1975. Bahkan pada 1975 dia berada di urutan ketiga pencetak gol terbanyak di Eropa dengan 28 golnya. Dia mengakhiri karir profesionalnya dengan torehan 210 gol dari 427 penampilan di klub.

Pensiun dari pemain, mantan pemain timnas Austria itu mencoba peruntungannya sebagai pelatih. Memulai karier kepelatihannya saat menjadi asisten di timnas Austria, dia tergolong sukses kala menukangi Vietnam. Tangan dinginnya mampu membawa Vietnam lolos ke partai puncak Piala Tiger (kini Piala AFF) pada 1998 meski akhirnya harus takluk 0-1 dari Singapura.

Kegemilangannya berlanjut pada Piala Asia 2007. Dia sukses mengantarkan Vietnam ke perempat final setelah di babak penyisihan mengalahkan tim kuat Uni Emirat Arab 2-0. Ini adalah kali pertama Vietnam sanggup lolos ke babak kedua.

Selanjutnya dia mencoba peruntungannya di timnas Laos dan kembali menuai prestasi di ajang SEA Games bersama timnas U-23. Laos yang sebelumnya selalu dianggap sebagai negara penghibur di Asia Tenggara ini berhasil dibawanya hingga menembus babak semi final untuk pertama kali sepanjang sejarah.

Tercatat, 12 tahun sudah Riedl malang-melintang di persepakbolaan kawasan Asia Tenggara. Dengan pengalamannya tersebut diharapkan Riedl tidak butuh waktu lama untuk beradaptasi dan mampu mengangkat prestasi Indonesia, setidaknya di kawasan ASEAN. (Luzman)


Data Alfred Riedl
Nama Lengkap: Alfred Riedl
Tempat/tanggal lahir: Vienna (Austria), 2 November 1949
Tinggi: 184 cm
Posisi sebagai pemain: Striker

Karir pemain Klub
1967-1972 Austria Vienna
1972-1974 Sint-Truiden
1974-1976 FC Antwerp
1976-1980 Standard Liège
1980 FC Metz
1981-1982 Grazer AK
1982-1984 Wiener Sportclub
1984-1985 VfB Mödling

Timnas
1975-1978 Austria

Karir pelatih
1990-1991 Austria
1993-1994 Olympique Khouribga
1994-1995 Al-Zamalek
1997-1998 Liechtenstein
1998-2001 Vietnam
2001-2003 Al Salmiya
2003-2004 Vietnam
2004-2005 Palestina
2005-2007 Vietnam
2008-2009 Xi Măng Hải Phòng FC
2009-2010 Laos
2010– Indonesia

dimuat di Rubrik Indo Soccer, Tabloid Soccer Edisi 37/X, 13 Maret 2010

Selasa, 09 Maret 2010

Buon Compleanno Inter, Wilujeng Tepang Taun Persib!


102 tahun dan 77 tahun. Itulah usia dua tim kebanggaan saya, Inter Milan dan Persib Bandung. Dibilang satu hati, memang begitulah kenyataannya. Di samping warnanya yang sama-sama biru dan juga memiliki suporter yang luar biasa, ternyata tanggal lahir kedua tim ini pun mirip.. 9 dan 14 maret, hanya berbeda 5 hari..

Internazionale Milan lahir lebih dulu pada 9 Maret 1908. Selang 25 tahun kemudian klub besar lain muncul di tatar Pasundan,, 14 Maret 1933..

9 maret 1908
14 maret 1933


tanggal yang begitu bersejarah bagi kedua tim,,

Inter di usianya yang ke-102 dengan pemain barunya semacam Milito, Eto'o, Lucio, Motta, Pandev, dan Mariga, Inter siap merebut treble winners. Berada di puncak klasemen Serie-A, menembus partai puncak Coppa Italia, dan sukses melibas Chelsea 2-1 di first leg Liga Champions adalah bukti nyata kesuksesan Inter.

Memang langkah Inter belum aman di Liga Champions. Namun rekor Mourinho yang begitu apik kala melatih Chelsea di Stamford Bridge nampaknya akan menjadi keuntungan untuk Inter. Sedikit banyak The Special One tahu betul kekuatan dan kelemahan Chelsea..

PERSIB, tepat di usianya yang ke-77 akan menghadapi sang pemuncak klasemen, Arema Indonesia. Laga yang sangat krusial. Jika bisa mengalahkan Arema, langkah pasukan Jaya Hartono untuk merebut gelar juara akan lebih mudah...

PERSIB memiliki daya jual yang tinggi. Mengingat ratingnya yang tinggi, ESPN akan membeli hak siar Persib. Masih ditambah rekor banyaknya pemain Persib di timnas, seperti saat laga Australia vs Indonesia di mana enam pemain persib turut bermain..
Hal yang luar biasa diraih dalam usia yang ke 77
BUON COMPLEANNO INTER!! WILUJENG TEPANG TAUN PERSIB!!
Persib 1933-2010
Persib. Begitu mendengar kata ini tentunya yang terbayang dalam benak kita ialah klub yang besar dengan sejarah hebat, pendukung fanatik yang begitu loyal, dan juga sangat disegani oleh setiap lawannya. Ya, sejak berdiri pada 14 Maret 1933, klub yang berjuluk Maung Bandung ini terus menyedot atensi masyarakat Jawa Barat karena berbagai kisahnya, baik suka mau pun duka.

Berbicara mengenai prestasi, memang Persib sempat naik turun. Bahkan sejak menjadi Liga Indonesia I pada 1994/95 torehan gelar tidak bertambah. Yang menjadi nilai lebih Persib ialah pendukungnya yang sangat luar biasa. Itu pun masih berdasarkan jumlah anggota Viking Persib Club, salah satu kelompok supporter Persib. Belum termasuk jumlah keseluruhan bobotoh dan kelompok supporter Persib lainnya. Harus anda ketahui, komunitas pendukung Persib bukan hanya Viking.

Contoh konkritnya ialah pada sebuah web www.voteyourteam.com. Persib berada di urutan pertama dengan 5717 angka, jauh di atas urutan kedua Arema yang hanya mendapat 995 angka, dan Persija dengan 342 angka. Untuk Asia Persib berada di urutan 14, dan dunia berada di urutan 154. Suatu bukti nyata Persib begitu digemari.

Persib juga membuat kreativitas warga Jawa Barat meningkat. Bahkan setiap media massa mengulas tentang Persib selalu mendapat sambutan luar biasa, sampai antv pun hampir menyiarkan seluruh pertandingan Persib. Bahkan, tingginya rating penonton siaran langsung pertandingan Persib Bandung membuat salah satu raksasa televisi berbayar, ESPN Star Sport tertarik menyiarkan secara langsung semua pertandingan “Maung Bandung”. Dengan demikian, Persib akan lebih dikenal di tingkat Asia dan Dunia.

Persib pun terbukti bisa menyatukan warga Jawa Barat. Setiap yang sama-sama merasa mendukung Persib pasti merasa satu perjuangan. Melihat stadion selalu dipenuhi bobotoh tiap kali Persib berlaga, tentunya dari berbagai golongan adalah sebuah bukti nyata. Semuanya, berteriak setiap kali nama “Persib Bandung” disebut. Ketika ada salah satu saudaranya yang sakit, bobotoh yang lain akan menjenguk dan mendoakan. Ketika ada yang sedang bergembira, anggota yang lain pun akan merasa gembira.
Suatu bentuk kekeluargaan yang luar biasa.

Media-media yang membahas Persib akan lebih banyak lagi. Kini, ada banyak majalah, tabloid, surat kabar, blog, dan juga web yang membahas Persib. Kabarnya, Tabloid Soccer pun akan meluncurkan SoccerSeries Persib bulan Mei nanti.

Bagi pemain pun, Persib pun adalah klub yang luar biasa. “Aku tidak pernah melihat supporter yang seperti ini lagi dimanapun terima kasih banyak untuk besarnya dukungan bobotoh terhadapku dan juga Persib di setiap pertandingan,” kata Suchao Nutnum pemain Thailand yang sempat menjadi andalan Persib beberapa waktu lalu.

Pada usia yang ke-77 ini, tentunya kita semua berharap Persib bisa menjadi juara Liga dan Copa. Apalagi pemain Persib pun sudah mulai mewarnai timnas, seperti pada laga Australia vs Indonesia lalu di mana lebih dari 50 persen skuad Benny Dollo ialah pemain Persib. Budi Sudarsono, Markus Harison, Maman Abdurrahman, Nova Arianto, Eka Ramdani, dan Hariono bermain pada laga itu. Suatu pengakuan bahwa Persib ialah tim terbaik di tanah air.

Jumat, 05 Maret 2010

Ever Banega: Dulu dibuang, Kini Disayang


SEPERTI juga emas yang tak bisa dimurnikan tanpa api, kehebatan sejati baru bisa keluar setelah adanya perjuangan dan rintangan. Midfielder Valencia, Ever Banega mengalaminya. Disia-siakan dan dibuang oleh klubnya, dia justru terpacu untuk membuktikan bahwa dirinya tak layak buang. Hasilnya musim ini dia bermain gemilang dan menjadi pemain tak tergantikan Los Ches.

Perjalanan Banega di Mestalla (markas Valencia) memang penuh suka duka. Dia datang ke Valencia pada Januari 2008 saat masih berumur 19 tahun. Transfernya dari Boca Juniors cukup mengemparkan karena menyentuh 18 juta euro (sekitar Rp234 miliar). Maklum, harga tersebut sangatlah mahal untuk pemain seumurannya.

Valencia berani membayar mahal karena punya pengharapan besar kepadanya. Pemain berambut gondrong ini diyakini akan menjadi bintang baru di Mestalla.
Apa lacur, harapan tak sesuai kenyataan. Meski punya skill hebat, mental Banega labil. Permainannya angin-anginan. Tak pelak, bangku cadangan pun jadi langganan. Karena tak begitu berguna untuk klub, Valencia lantas meminjamkannya ke Atletico Madrid pada musim 2008-09.

Toh, Banega tak mau patah arang. “Sepak bola Spanyol berbeda dari Argentina. Ada banyak perubahan pikiran. Apalagi aku datang saat baru berumur 19 tahun. Peminjamanku ke Atletico Madrid itu positif karena mereka memiliki banyak pemain berpengalaman dan dapat bermain bersamaku,” kata Banega bijak.Hanya satu musim Banega bemain di Vicente Calderon. Setelah itu kembali ke Valencia.

Namun Valencia justru menginginkan dia kembali pergi. Dia dianggap menjadi biang masalah. Perilakunya di luar lapangan kerap meresahkan klub. Beberapa kali Banega kedapatan menggunakan alkohol. Perilaku buruk lainnya adalah skandal video seks melalui webcam dan pernah berurusan dengan polisi karena menerobos lampu merah.

“Sebelum musim ini, Ever memang lebih dikenal untuk apa yang dia lakukan di luar lapangan dibandingkan prestasinya di lapangan hijau,” komentar Unai Emery, pelatih Valencia.

MENOLAK PERGI
Resah dengan kelakuan Banega, Manuel Lloriente, Presiden Valencia mengancam sang pemain untuk dipinjamkan ke Everton. Tapi Banega menolak untuk dipinjamkan. Dia berjanji memperbaiki diri.

“Tahun ini, aku mulai dari awal,” katanya. “Aku tiba (di Valencia) pada umur 19 dan membuat kesalahan. Aku menyia-siakan dua tahun dan sudah berpikir tentang beberapa hal. Sekarang aku berusaha tak mengulanginya lagi,” tekad Banega.

Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Banega pun bertarung merealisasikan apa yang diucapkan bibirnya. Lihatlah kiprahnya musim ini. Dia mengawali musim ini dengan fantastis, mencetak dua assist saat menghadapi Sevilla di pertandingan perdana Liga BBVA 2009-10. Setelah itu dia melanjutkannya dengan permainan yang konsisten pekan demi pekan.

Banega pun berubah. Dari pemain yang terbuang, dia menjadi pemain utama Valencia. Lebih hebat lagi, Banega kini menjadi pemain yang tak tergantikan. Hingga jornada ke-23 Liga BBVA, Banega menjadi pemain yang paling banyak membukukan assist di Valencia.
“Banega, mencuri bola seperti Italia, menembak seperti Jerman, dan bermain layaknya Argentina,” begitulah komentar harian Marca mengenai kehebatan Banega.

Banega mengaku telah melakukan lompatan besar dalam kariernya. “Mungkin ini adalah penampilan terbaikku yang aku berikan untuk klub dan rekan-rekan tim. Aku merasa nyaman berada di lapangan.” katanya kepada valenciacf.com.

Ambisi lainnya dari Banega adalah ingin menjadi bagian dari skuad Diego Maradona di Piala Dunia 2010 dengan terus menampilkan permainan terbaik bersama Valencia. “Aku bekerja keras dan melakukan hal-hal yang baik dengan Valencia. Mudah-mudahan aku akan cukup beruntung untuk berada di sana (Afrika Selatan 2010). Tapi jalan menuju ke sana masih jauh. Aku berharap untuk terus melakukan hal-hal penting bagi Valencia, jika pelatih (Maradona) melihat mungkin aku bisa berada di sana,” harap Banega.

Terlepas dari ambisinya ke Piala Dunia 2010, yang jelas kini Banega adalah aset utama Valencia. “Banega merupakan pemain yang paling penting dalam skuad. Dia mendikte tempo permainan, memberi assist, mengorganisasi permainan dari dalam, dan menjalankan permainan,” kata mantan Direktur Olahraga Valencia, Amadeo Carboni.
Ya, Nasib Banega di Mestalla telah berubah 180 derajat. From zero to hero. Dari pecundang menjadi pahlawan. Luzman

Fakta Banega
Nama Lengkap: Éver Maximiliano David Banega
Julukan : Tanguito
Lahir : Rosario, Santa Fe (Argentina), 29 Juni 1988
Tinggi/berat : 174 cm/ 71 kg
Posisi : Midfielder
Nomor kostum : 24 (Valencia)
Debut liga BBVA: 13 Januari 2008, Atletico Madrid 1-0 Valencia
Debut timnas : 6 Februari 2008, Argentina 5-0 Guatemala
Karier klub :
2007 Boca Juniors (28 main, 0 gol)
2008-… Valencia (28 main, 2 gol)
2008-2009 Atletico Madrid (24 main, 1 gol)
2009-... Valencia (23 main, 2 gol)
"Mungkin ini adalah penampilan terbaikku yang aku berikan untuk klub dan rekan-rekan tim. Aku merasa nyaman berada di lapangan."

Rubrik Playmaker Tabloid Soccer, edisi 36/X, 6 Maret 2010

Kamis, 04 Maret 2010

West Ham: Digembosi Pemain


Pembelan Dyer merugi secara finansial
Transfer pemain menjadi penyebab utama krisis keuangan di Boleyn Ground.

Tak selamanya pemain mahal mendatangkan keuntungan. Jika tak bijak dalam mengatur keuangan, justru membuat neraca klub menjadi negatif. Hal itu yang dialami West Ham United. Kebijakan transfer yang salah menempatkan klub itu pada krisis keuangan kronis, setara dengan Portsmouth.

Calum Davenport dan Nigel Quashie yang didatangkan Januari 2007 telah menghabiskan 12
juta pounds (Rp 165,7 miliar) dalam durasi kontrak selama tiga tahun. Ironisnya mereka tak terlalu terpakai. Davenport total hanya bermain dalam 15 pertandingan selama berbaju West Ham. Quashie bahkan hanya tampil 7 kali.

Kesalahan memprediksi kondisi pemain juga menjadi blunder. Dean Ashton, yang akhirnya pensiun dini akibat cedera, diberikan kontrak baru pada Desember 2008 dengan nilai 5,81 juta pounds (Rp 80,25 miliar). Klub juga membayar Freddie Ljungberg dan Kieron Dyer, yang datang pada musim panas 2007 sebanyak 34 juta pounds (Rp 469,8 miliar) hanya untuk tampil 25 dan 16 kali lantaran lebih sering berkutat dengan cedera.

Tak hanya soal transfer. Dalam pengelolaan keuangan, manajemen The Hammers sering melakukan kesalahan. Bayangkan saja, dengan pemasukan “cuma” 76 juta pounds (Rp 1,05 trilyun), klub yang bermarkas di Boleyn Ground itu harus membayar gaji pemain yang mencapai 68 juta pounds (Rp 939,9 miliar). Belum lagi biaya bunga dari pinjaman bank.

Total utang klub kini mencapai 95 juta pounds (Rp 1,31 trilyun) yang meliputi pinjaman bank termasuk bunga, 14 juta pounds (Rp 193,4 milyar) untuk biaya transfer, 21 juta pounds (Rp 290,1 milliar) untuk utang pada Sheffield United, penyelesaian transfer Carlos Tevez, tagihan pajak, kompensasi kepada mantan manajer Alan Curbishley, dan berbagai akun petty cash hal lainnya.

Ketidakjelasan penggunaan dana itu jelas memerahkan neraca keuangan The Hammers. Apesnya lagi, saat membeli klub, Eggert Magnusson dan Bjorgolfur Gudmundsson menggunakan utang sebesar 100 juta pounds.

Tak heran, saat tutup buku musim lalu, West Ham menderita kerugian 16 juta pounds (Rp 221,04 miliar). Imbasnya, manajemen hanya melakukan peminjaman pemain untuk musim ini.

Kendati demikian, kehadiran dua pemilik anyar menerbitkan asa tersendiri. Pembelian 50 persen saham The Hammers oleh David Sullivan dan David Gold sedikit mengurangi tekanan. Apalagi, mereka menerapkan tight money policy, salah satu caranya dengan melakukan pemotongan gaji.

“Sukses klub memang banyak tergantung dari bagaimana mereka menginvestasikan sumber dayanya. Harus diakui, banyak keputusan investasi pemilik terdahulu selama 2-3 musim terakhir malah mubazir,” ujar Direktur Keuangan, Nick Igoe.

Sullivan pun menjamin takkan membawa klub barunya ke jurang kehancuran. Pengalaman dia saat membenahi Birmingham City menjadi acuan. “Dewan direksi akan bekerja tanpa henti untuk menempatkan klub kembali pijakan keuangan yang stabil. Saya percaya kami memiliki keahlian untuk mencapainya.” (Luzman)


Final Piala Carling
Wasit Tak Salah
Kontroversi terjadi di final Piala Liga yang mempertemukan Manchester United dan Aston Villa di Wembley (28/2). Pada menit kelima, Nemanja Vidic melanggar Gabriel Agbonlahor di kotak penalti. Wasit Phil Dowd memberikan Aston Villa hadiah penalti, tapi tidak memberikan Vidic kartu merah. Hal ini membuat manajer Aston Villa, Martin O’Neill kecewa sebab dia menganggap Vidic “orang terakhir”.

Namun, wasit senior Graham Poll justru putusan Dowd sudah tepat. “Dalam kasus ini kita harus melihat semua peraturan. Tak ada aturan yang menyebutkan ‘orang terakhir’ termasuk Vidic harus dikartumerahkan karena pelanggarannya membuat Agbonlahor gagal mencetak gol. Dalam sepak bola, opini selalu bermain,” pendapat Poll.

Terlepas dari kontroversi tersebut soal wasit, kubu MU pantas merasa lega. Dua beban terangkat sekaligus. Membalas dendam kepada Aston Villa sekaligus menghadirkan gelar perdana. Apalagi, Wayne Rooney dan Michael Owen yang mencetak gol pada laga tersebut, sebetulnya tidak dalam keadaan fit 100 persen. = Luzman
Caption: Red Devils juara Piala Liga 2009-10.

Sekilas Inggris
SAM ALLARDYCE, manajer Blackburn Rovers yang sempat bersitegang dengan Rafael Benitez berharap timnya dapat bekerja keras untuk meraih kemenangan tandang. Dalam 14 pertandingan tandang, Blackburn hanya bisa menang sekali saat melawan Bolton Wanderers, November lalu.

BURNLEY dikabarkan akan membayar fee 500 ribu pounds (Rp6,91 miliar) ditambah perjanjian lainnya untuk mendapatkan defender Richard Eckersley. Biaya untuk mantan pemain Manchester United ditetapkan oleh pengadilan FA setelah kedua klub gagal mencapai kesepakatan mengenai nilai pemain, yang menolak kontrak baru di Old Trafford musim panas lalu ini.

ANDY REID berbakat di dunia musik. Belum lama ini, gelandang Sunderland itu bermain sebagai gitaris bersama grup musik The Five Fingers Band dalam pembuatan beberapa lagu. Pembuatan lagu ini merupakan salah satu proyek SAFC Foundation Seaburn Kickz dalam rangka menghormati salah satu anggotanya yang meninggal.

Rubrik England Tabloid Soccer Edisi 36/X, 6 Maret 2010 (halaman 10)

Rabu, 03 Maret 2010

Persib = Timnas


Melihat hasil laga Australia vs Indonesia tentunya saya merasa kecewa. Yah, lagi dan lagi Indonesia mengalami kekalahan. Terpuruk di peringkat ke-136 FIFA memang terlihat timnas kita berada di titik nadir. Padahal saat itu Australia tanpa diperkuat pemain yang bermain di Eropa? Bagaimana jika Harry Kewell, Mark Viduka, dan Tim Cahill bermain?? Tentunya bukan skor 0-1 yang akan terjadi...

Namun dari duka tersebut ada rasa kebanggaan terkait tim kebanggaan saya, Persib Bandung. Saya jadi teringat posting saya terdahulu, Timnas Butuh Pemain Persib. Memang seperti itulah yang terjadi. Total, enam pemain Persib bermain dalam pertandingan tadi.

Pada starting line up saja ada empat pemain Persib yang dimainkan Benny Dollo. Markus Harison, yang baru saja bergabung dari Arema Indonesia - tim pacar saya, lalu ada Nova Arianto, Maman Abdurrahman, dan juga Budi Sudarsono. Sebuah pengakuan terhadap kehebatan tim Maung Bandung.

Pada babak kedua, Eka Ramdani masuk menggantikan Firman Utina. Syamsul digantikan Hariono. Total ada enam pemain Persib di lapangan, atau lebioh dari 50 persen!!

Hebatnya mereka pun tampil cukup menjanjikan. Nova cukup solid menjaga Josh Kennedy. Markus pun bermain gemilang. Seandainya saja Gilang Angga dan Atep turut bermain tentunya skuad timnas semakin "biru".

Timnas boleh saja gagal. Tapi nampaknya Persib dengan banyak pemain timnas akan menjadi juara musim ini. Tak sabar menunggu pertandingan Persib selanjutnya melawan Bontang FC pada 11 Maret. Go Persib Go!!!