Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Minggu, 29 Mei 2011

PSSI oh PSSI

Ditinggal Nurdin Halid, ternyata PSSI masih kacau balau. Terlihat dari kongres yang sempat mengalami deadlock pada 20 Mei 2011 lalu. Hal tersebut tersebut akibat kengototan Kelompok 78 mengajukan nama Arifin Panigoro dan George Toisutta.


Sebagai wartawan vivanews.com, saya pernah ditugaskan datang ke rumahnya Arifin Panigoro di Jalan Jenggala untuk menanyakan apakah ia ikut kongres PSSI atau tidak. Namun ternyata ia tak ada di rumahnya dan juga di kantornya yang ada di Gedung The Energy. Saya pun membuat berita tentang keadaan kongres PSSI di Hotel Sultan. Ini beritanya.




Massa FBR Tinggalkan Lokasi Kongres PSSI
“Kami mengikuti aturan kepolisian. Sebelum pukul 17.30 WIB demonstrasi harus berakhir."
Jum'at, 20 Mei 2011, 17:49 WIB
Edwan Ruriansyah, Luzman Rifqi Karami
Aksi FBR (MATANEWS.COM)
VIVAnews - Massa dari Forum Betawi Rempug (FBR) secara tertib mulai mengundurkan diri sejak pukul 17.00 WIB dari depan lokasi Kongres PSSI di Hotel Sultan, Jakarta. Sebelumnya, FBR yang terdiri dari sekitar 200 anggotanya berjaga-jaga di depan Hotel Sultan untuk mengamankan jalannya Kongres.

Organisasi masyarakat tersebut mengaku telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk mengantisipasi kericuhan selama berlangsungnya Kongres.

“Kami mengikuti aturan kepolisian. Sebelum pukul 17.30 WIB demonstrasi harus berakhir. Tadi, juga ada sekelompok mahasiswa dari berbagai universitas namun semuanya sudah pulang,” ujar Panglima FBR, Harul Ghozali kepada VIVAnews, Jumat 20 Mei 2011.

Harul menuturkan, FBR tidak mendukung siapa pun dalam kongres ini. Mereka hanya merasa bertanggungjawab terhadap kelancaran Kongres karena PSSI adalah milik bangsa Indonesia.

Saat ini, di pelataran depan Hotel Sultan hanya tersisa sekitar 30 orang FBR yang membawa bendera hijau bertuliskan FBR. Mereka semua menggunakan sepeda motor. Aparat kepolisian yang berjaga-jaga di luar sekitar 100 orang. Keadaan di luar saat ini aman terkendali. (eh)
• VIVAnews 
 
Nah keadaan di luat kan aman terkendali tuh sampai jam setengah 6. Tapi kenapa tiba-tiba jam 8 ada kisruh, ribut-ribut di dalam? Dan mengapa tiba-tiba ada gosip Indonesia akan terkena sanksi FIFA? Padahal FIFA sama sekali tidak mengagendakan pemberian sanksi untuk Indonesia. Yang paling aneh adalah saat Agum tiba-tiba saja berkata ada intimidasi dari pihak TNI, padahal saat saya wawancara Laksamana Agus Suhartono, ia pun tak tahu menahu tentang hal tersebut.

Apakah ini hanya akal-akalan Agum Gumelar untuk mencari muka saja agar terlihat seperti pahlawan? Hmm.. entahlah, PSSI memang sulit ditebak. Mudah-mudahan saja revolusi PSSI benar-benar terjadi.

Rabu, 18 Mei 2011

Menulis Sambil Berdakwah

Luzman Rifqi Karami : Menulis Sambil BerdakwahOleh : Mieny Angel

…. Hubunganku dengan dia pun sekarang dibatasi, karena kami belum muhrim dan takut pada murka Allah. ….
Penggalan di atas adalah salah satu tulisan dari pria kelahiran Bandung, 27 Mei 1988.

Luzman Rifqi Karami, memulai karirnya sebagai penulis lepas di tabloid Soccer, Media Indonesia dan Persib Magz. Semua hal yang berbau bola tak pernah lepas dari pengamatannya. Baik dalam maupun luar negeri.
Penggemar klub Inter Milan ini selain menulis di majalah bola juga telah melahirkan beberapa buku, baik yang solo mau pun antologi. Antara lain: Terjebak di bawah sadar, Terbebas Dari kegelapan, Gado-Gado Cinta, Be Strong Indonesia, Sepak Bola dan Dakwah.

Hampir semua tulisannya selalu mengandung tentang dakwah. Menulis sambil berdakwah. “Motivasi menulis ingin berbagi inspirasi dengan orang lain, kayaknya seneng banget kalo bisa menginspirasi orang lewat tulisan apalagi bisa berdakwah lewat tulisan. Al-Quran juga kan berbentuk tulisan, jadi menurutku menulis bisa jadi media dakwah yang cukup efektif.” Begitulah jawaban dari Luzman yang juga seorang penyiar di M-Tas 107.8 FM, Sumedang, saat diwawancarai.

Selain mendapat kesenangan dunia, insya Allah mendapatnya pahala yang berlipat. Pria S1 fakultas Ilmu Komunikasa Unpad ini mempersembahkan setiap tulisannya untuk sang ibu tercinta, Nita Kania. Karena Ibulah yang banyak mengajarkan tentang menulis. Bakat menulisnya telah diketahui ibunya sejak kecil. Dengan tekun sang ibu melatih dirinya untuk menulis apa saja yang ada di sekitarnya. Termasuk menulis nasi dan uraian-uraian yang terjangkau oleh anak kecil.

Pria yang banyak orang dibilang mirip Afgan Syah Reza ini terkadang kesulitan dalam mempromosikan buku-bukunya yang memang dijual secara online saja. Sebab menurutnya promosi itu tidak gampang, kebanyakan orang lebih banyak bilang minta gratisan. Dia lebih banyak menjual bukunya ke saudara dan sahabat yang memang sudah dia kenalnya.
Selama berkarir dalam dunia tulis menulis, banyak sekali hambatannya. Selain kebanyakan orang minta gratisan saat bukunya terbit, dia juga beberapa kali ditolak oleh penerbit major. Hanya perasaan sedih yang didapat. Namun lekas dia bangkit, sebab tak ada gunanya bersedih oleh penolakan.

Dia sangat ngefans dengan penulis Raditya Dika, sampai-sampai dia juga mengikuti jejak Raditya untuk membuat blog dengan nama www.kumahanjeun.com. Katanya kalau Raditya saja bisa terkenal tulisannya lewat blog, berarti ada kemungkinan dirinya pun bisa.

Walau pun sudah dibilang agak sukses dengan kerjaan barunya sebagai wartawan di www.vivanews.com ternyata dia masih mempunyai impian yang belum terwujud dan ingin segera mewujudkannya, yaitu “menikah”. Kita doakan saja supaya impiannya tercapai. Amin.

Motto dalam hidupnya, “Hidup seperti permainan bola, menggunakan berbagai tak-tik untuk mencari gol sebanyak-banyaknya dan meraih kemenangan gemilang.” Wau sebuah motto hidup yang tak jauh dari bola namun mempunyai makna yang luar biasa.

Bagi kalian yang hendak mengenalnya lebih jauh, boleh silahkan beremail ria di luzman_tari@yahoo.com atau juga pantengin kicauannya di @luzman_karami [MA]

Minggu, 15 Mei 2011

Nasib Tragis Karyawan OLE

Tanggal 20 Maret lalu saya bekerja di Harian Olahraga OLE! yang berada di daerah Ciputat, Jakarta Selatan. Agak aneh sebab setiap saya menanyakan gaji selalu berusaha menghindar, dan kontrak pun tak kunjung diberikan. Keanehan memuncak sampai saat ini di mana semua karyawan OLE belum menerima gaji.. Ada apa dengan OLE? Berikut ini penelusuran dari Jojo Raharjo di mediaindependen.com. Jojo Raharjo, pria yang menganggap sepakbola sebagai agama keduanya. Menjadi wartawan bayaran sejak 1997, pernah bekerja sebagai reporter Radio Sonora Surabaya, CVC Australia dan Tempo. Kini menjadi jurnalis lepas dan juga dosen penyiaran di UKI.

Tulisan ini tidak ada maksud menjelek-jelekkan ini adalah 100 persen fakta. Keadilan memang harus ditegakkan. Dalam twitter @koran_ole terakhir pun statusnya "Apakah karyawan koran ole sudah di gaji ??" Sungguh memprihatinkan.

Koran olahraga baru telantarkan karyawannya

Posted on | April 28, 2011


Salah satu cover Harian Olahraga Ole! Mencoba bangkit atau jadi almarhum?
Sebuah harian olahraga baru ditutup tanpa alasan jelas. Lagi-lagi, wartawan dan seluruh awaknya jadi korban.

Februari lalu, Ole!, sebuah harian olahraga baru menyeruak di lapak-lapak koran pinggiran Jakarta. Koran anyar ini tampaknya bersiap mengibarkan bendera perang dengan Top Skor dan Goal, dua surat kabar harian lain yang lebih dulu lahir di ibukota. Persaingan sebenarnya tidak hanya dengan dua media itu. Di ceruk tabloid olahraga, ada dua media di bawah bendera Kompas Gramedia, yakni tabloid Bola –terbit 3 kali sepekan- dan mingguan Soccer. Selain itu, ada juga koran umum yang memasang halaman olahraga sebagai jualan utamanya, misalnya Indo Pos, Seputar Indonesia, dan Jurnal Nasional.

Karena itu, kehadiran Ole! memanaskan kompetisi yang ada. Di box pimpinan redaksi, tertera nama Sigit Nugroho, mantan pimpinan halaman Ole! Nasional – nama rubrik belasan halaman yang mengulas persepakbolaan nasional. di tabloid Bola. Wajah Sigit kerap tampil di layar kaca sebagai komentator pertandingan sepakbola nasional. Kabar terakhir, ia mundur dari Bola karena bergabung dengan Agum Gumelar dalam event organizer untuk mendatangkan Manchester United ke Senayan dua tahun silam. Sebuah megaproyek yang hancur berantakan akibat ledakan bom di JW Marriot dan Ritz Carlton Kuningan, dua hari sebelum Wayne Rooney dan kawan-kawan mendarat di Jakarta.

Sayang, tak sampai dua bulan, Ole! bernasib tragis. Koran yang dijual 2 rebu perak itu gulung tikar tanpa musabab yang pasti. “Total terbit sebanyak 21 edisi. Itu pun tak rutin setiap hari. Pernah antara edisi satu ke edisi lainnya sampai jeda dua pekan,” kata salah seorang awak redaksinya kepada Media Independen.
Wartawan yang tak mau namanya dipublikasikan secara terbuka ini menuturkan, ia bergabung dengan kantor Ole! di kawasan Cirendeu sejak awal Maret. “Diajak teman yang sudah duluan di sana. Langsung kerja, lalu seminggu kemudian mendapat ID Press,” katanya.

Sempat curiga karena tak kunjung menandatangani surat kontrak kerja, ia kemudian tak mempersoalkan keganjilan itu karena keinginannya menjadi jurnalis olahraga begitu membara. “Pasrah saja mau diberi gaji berapa, yang penting bisa jadi wartawan sepakbola,” katanya.

Bekerja lebih dari sebulan, keanehan lain didapatnya. Koran harian ini tak terbit seiring dengan hadirnya mentari pagi. “Beberapa hari cetak, kemudian berhenti, lalu terbit lagi. Terakhir cetak pada edisi ke-21 tertanggal 20 April,” kisahnya. Setelah itu, karyawan mendapat libur hingga 25 April. “Pada 25 April itu kami masuk, tapi tak ada informasi apapun. Pihak manajemen menyatakan tidak bisa membayar gaji karena uang dari investor belum turun,” lanjutnya. Selidik punya selidik, para karyawan mendapat informasi bahwa investor sempat mengucurkan dana Rp 700 juta. Adapun sang pimpinan redaksi, Sigit Nugroho, tak nampak batang hidungnya sejak 19 April.

Maka terlantarlah nasib karyawan Harian Olahraga Ole!, yang kalau dihitung berdasar nama di box redaksi mencapai 39 orang. “Ada beberapa orang mengantongi kas bon Rp 200 ribu,” tuturnya. Beberapa orang sempat mendapat gaji, meski tak sesuai nominal kontrak. Reporter yang mestinya memperoleh Rp 1,5 juta digaji Rp 900 ribu, redaktur kontraknya digaji Rp 3,5 juta hanya beroleh Rp 1,5 juta, sementara redaktur pelaksana yang dijanjikan Rp 7 juta cuma dibayar Rp 2 jutaan. “Katanya, 3 bulan awal gajian hanya dapat 60 persen,” tukasnya.

Kantor Ole! di Cirendeu
Saat Media Independen menelpon kantor redaksi Ole!, seorang petugas keamanan bernama Aris menyatakan koran itu masih akan terbit. “Tapi tak tahu kapan persisnya,” katanya. Tak ada satu pihak pun yang bisa memberi penjelasan mengenai nasib karyawan Ole yang terlantar. “Masih pada meeting di luar, saya sendiri tak bisa memberi informasi soal itu,” katanya.

Ternyata bukan sekali ini Ole! menjalankan modusnya. Akhir tahun lalu, situs berita VHR memberitakan, mereka membuat masalah serupa di Bandung. Lebih parah lagi, wartawan dan karyawan yang direkrut merasa tertipu karena tak selembar edisi pun pernah diterbitkan. Karyawan harian Ole! Jawa Barat sudah 3 bulan tidak mendapatkan upah. Harian olahraga ini memiliki 23 karyawan, terdiri atas 3 redaktur, 7 wartawan, dan 16 karyawan dengan berbagai posisi.

Salah satu wartawan, Jaka Permana, mengatakan saat bergabung menandatangani kontrak kerja dengan perjanjian upah sebesar Rp 1,5 juta per bulan. Namun, hingga bulan ketiga, perusahaan tidak juga membayarkan gaji kepada seluruh karyawan. ”Bukan saya saja yang tidak di gaji. Karyawan lain pun tidak,” kata Jaka.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI)Bandung menyatakan tindakan pengelola harian Ole! merupakan pelanggaran ketenagakerjaan dan mendorong para karyawan mengadu ke Dinas Tenaga Kerja.”Kami siap memfasilitasi proses advokasi jika karyawan Ole! memintanya,” kata Agus Rakasiwi, Ketua AJI Bandung saat itu.

Kini, tersiar kabar di kalangan wartawan Ole! Jakarta, aksi serupa akan dilakukan Ole! di Semarang. Para wartawan dan seluruh kru Ole di Jakarta bertekad tak tinggal diam. “Kalau masih tak ada kabar, bulan Mei kami akan bergerak lagi,” kata jurnalis yang baru saja kehilangan suasana kerja di tempat yang sebenarnya diidam-idamkannya itu. “Saya hanya berharap gaji saya selama dua bulan dibayar. Itu saja,” katanya.

Tak Bayar Karyawan, Pemred Ole! Kabur

22 September 2010 - 16:49 WIB
Bambang Prasethyo / Arwani
VHRmedia,Bandung- Karyawan harian Ole! Jawa Barat sudah 3 bulan tidak mendapatkan upah. Harian olahraga ini memiliki 23 karyawan, terdiri atas 3 redaktur, 7 wartawan, dan 16 karyawan dengan berbagai posisi.
Salah satu wartawan, Jaka Permana, mengatakan saat bergabung menandatangani kontrak kerja dengan perjanjian upah sebesar Rp 1,5 juta per bulan. Namun, hingga bulan ketiga, perusahaan tidak juga membayarkan gaji kepada seluruh karyawan. ”Bukan saya saja yang tidak di gaji. Karyawan lain pun tidak,” kata Jaka, Rabu (22/9).
Sigit Nugroho, pemimpin redaksi dan penggagas berdirinya Ole!, menghilang ketika akan dimintai pertanggungjawaban. ”Kami sudah menghubungi Sigit melalui telepon selulernya, tapi tidak ada jawaban. Waktu rumahnya kami datangi, barang-barangnya sudah tidak ada. Dia sudah kabur!” kata Jaka.
Harian Ole! berkantor di Jalan PHH Mustopa 20 Bandung. Namun, para karyawan tidak tahu harus menuntut hak mereka ke mana, karena Pemred Sigit Nugroho dan Wapemred Nandang Muhamad Solihin menghilang.
Aliansi Jurnalistik Independen Bandung menyatakan tindakan pengelola harian Ole! merupakan pelanggaran ketenagakerjaan dan mendorong para karyawan mengadu ke Dinas Tenaga Kerja.”Kami siap memfasilitasi proses advokasi jika karyawan Ole! memintanya,” kata Agus Rakasiwi, Ketua AJI Bandung. (E4)
Foto: VHRmedia / Bambang Prasethyo

Senin, 09 Mei 2011

Sebuah Artikel dari Milanisti

AC Milan akhirnya sukses meraih scudetto ke-18 setelah menahan imbang AS Roma 0-0 di Olimpico. Sukses ini adalah kali pertama sejak 2003-04 sekaligus memupus dominasi Inter lima musim sebelumnya. Sebagai Interisti yang baik saya ucapkan GRAZIE buat AC Milan, mudah-mudahan Inter dan Milan bertemu di Coppa Italia. Tahun depan Inter lagi juaranya.

Sedikit Intermezzo (bukan Milanmezzo) ini adalah artikel dari rekan saya Sri Lestari (twitter @Lestari_Sri) tertanggal 17 Maret 2010. Tahun lalu saat Milan berusaha mengejar Inter namun akhirnya gagal scudetto. Kesempatan yang baru bisa diraih musim ini. Ini dia curhatan Tari musim 2009-10 lalu. Congrats yah akhirnya dapet juga, hihi.


Kerinduan yang Mendalam

Scudetto. Ya, itulah gelar yang sangat saya dambakan untuk klub favorit saya, AC Milan. Saya akui, saya mengagumi klub yang berjuluk I Rossoneri tersebut usai Piala Dunia 2006. Bisa dibilang masih junior dalam keluarga besar Milanisti. Sepanjang saya menjadi bagian dari fans Milan, beberapa kali mata saya terpana melihat Milan meraih gelar-gelar bergengsi seperti trofi UCL, trofi FCWC, dan trofi UEFA Super Cup. Salah satu trofi bergengsi yang belum pernah Milan raih selama saya menjadi Milanisti adalah scudetto.

Sejak mulai bergulirnya musim ini, ada tendensi bahwa hati ini lebih mengharapkan Milan untuk merengkuh scudetto daripada trofi UCL atau Coppa Italy. Mungkin tak hanya saya sendiri yang menyimpan rasa rindu terhadap gelar itu, tapi juga Milan. 6 tahun tak sekalipun menyentuh simbol supremasi kompetisi terelit di Italia, tentunya menyisakan kesedihan tersendiri bagi klub yang bermarkas di Milanello tersebut. 

Memang trofi UCL bisa dibilang berada 1 tingkat di atas scudetto. Mengapa saya lebih mengharapkan scudetto musim ini? Selain karena sudah hampir sewindu Milan dahaga scudetto, adalah agar koleksi scudetto Milan tak mampu dikangkangi oleh rival sekota Milan, Inter. Keduanya saat ini sama-sama menggenggam 17 scudetti. Mau ditaruh dimana muka Milan jika sang adik berhasil melangkahi sang kakak?
Harapan saya agar Milan mampu menyabet scudetto terbuka sangat lebar. Satu-satunya harapan Milan yang tersisa adalah scudetto mengingat langkah mereka di UCL telah terhenti lantaran mereka dibabat MU 4-0. 

MU pun melenggang ke babak selanjutnya dengan agregat 7-2. Pun begitu di Coppa Italy, Il Diavolo Rosso sudah angkat koper. Otomatis harapan satu-satunya Milan musim ini tinggal scudetto saja. Jika Milan bisa fokus dan konsisten meraihnya, scudetto bisa jadi berhasil digenggam Milan di penghujung musim. Apalagi saat ini, selisih poin Milan dengan Inter hanya 1 poin. Mengkudeta Inter, why not? Selama Milan mampu berkonsentrasi penuh untuk melakoni sisa laga musim ini dan Inter terjungkal.
FORZA MILAN

Minggu, 08 Mei 2011

Ikuti Event Leutika Prio, Dapatkan buku Saya Gratis

Mau dapat buku saya gratis? Ikuti lomba yang diadakan Leutika Prio. Pilih Cover Terbebas dari Kegelapan sebagai cover Favoritmu, atau bikin profil tentang saya juga bisa.

Cerpen Berdarah, karya Eko Hartono menandai terbitnya 100 judul buku LeutikaPrio dalam kurun 6 bulan (sejak berdiri 18 November 2010).
Semarak 100 buku dalam 6 bulan kami meriahkan dengan event:


My Favorite Cover
  
Tulis komenmu & raih undian buku gratis


Caranya:
1.    Login di www.leutikaprio.com (bagi yang belum jadi member, silakan klik “daftar/sign up”).
2.    Klik cover buku LeutikaPrio yang paling kamu anggap keren.
3.    Tulis alasan kenapa kamu memilih cover tersebut di kolom “Review Anda” (kolom ada di bawah buku).
4.    Jangan lupa untuk menyertakan alamat FB di bagian bawah ulasanmu untuk keperluan konfirmasi apabila kamu menang.
5.    Klik tombol “send” dan ulasan covermu kami simpan (review tidak bisa tampil seketika. Kami akan mengaktifkannya sehari setelah pesreta kirim review tersebut).

Hadiah:
 1.    Leutika mengundi 5 komen beruntung untuk mendapatkan 10 buku GRATIS dari LeutikaPrio (@2 buku, judul bisa memilih).
2.    Bagi cover buku dengan komen terbanyak, akan mendapatkan reward khusus dari Leutika dan akan dikirim langsung ke penulisnya. (Untuk buku kompilasi hadiah dikirim ke koordinatornya.)

Penting:
 1.    Peserta hanya diperbolehkan kirim satu ulasan untuk satu cover buku. So, pilih cover paling favoritmu.  
2.    Pemenang berdasarkan undian.
3.    Event ini tidak berlaku bagi setiap penulis LeutikaPrio, hal demikian untuk memberikan kesempatan bagi teman-teman non penulis untuk mendapatkan buku Leutika.


My Inspiring Writer 
Perjuangannya dalam dunia tulis-menulis menginspirasiku, tulis ah!!!

Beda individu, beda pula pengalamannya. Kalau ternyata apa yang telah kita lakukan bisa memicu orang terdekat untuk lebih semangat, kenapa harus malu untuk berbagi kisah?
Meriahkan 100 buku Leutika dengan memilih salah penulis LeutikaPrio untuk kamu jadikan notes FB yang menginspirasi orang lain.


Caranya:
1.    Pilih satu penulis LeutikaPrio yang kamu kenal (baik dalam buku kompilasi maupun solo) untuk kamu ceritakan salah satu episode inspiratifnya dalam dunia tulis-menulis. Seperti: tetap mengirimkan naskah walau ditolak 100kali, bersepeda 50kilo untuk demi ikut organisasi penulisan, dll.
So, di sini kamu belajar jadi penulis biografi orang, belajar ngewawancarain juga.
2.    Tulis dengan panjang maksimal 2 halaman A4 spasi 1,5 times new roman 12.    
-    Posting ulasanmu di notes FB masing-masing. Tag min. 25 orang, termasuk (pilih salah satu) FB LeutikaPrio, Leutika Publisher, Leutika Publisher Dua.
-    Sertakan banner (logo) “Setengah Tahun Seratus Buku” dalam notes tersebut. Logo bisa diambil di bawah notes ini.

Hadiah:
Leutika mencari 5 notes terbaik, masing-masing akan mendapatkan 2 buku dari LeutikaPrio (judul bisa memilih) dan 1 buku dari Leutika (judul tidak bisa memilih).

Penting:
1.    Pemilihan pemenang berdasarkan teknis penulisan peserta dalam mengulas profil penulis dan muatan inspiratifnya.
2.    Event ini terbuka bagi penulis LeutikaPrio maupun non penulis LeutikaPrio. (Apabila peserta adalah penulis LeutikaPrio, maka yang harus diceritakan adalah episode inspiratif penulsi LeutikaPrio lainnya.)

Dua event di atas dibuka hingga: 21 Mei 2011.
Pengumuman pemenang pada: 30 Mei 2011 di semua FB Leutika dan website www.leutika.com &www.leutikaprio.com.    

Sabtu, 07 Mei 2011

Tak Selamanya Bola Itu di Atas

Sepakbola mengajarkan banyak kita berbagai hal, termasuk mengenai hikmah dari kehidupan yang fana ini. Dari bentuknya saja yang bundar seperti bumi, hal tersebut adalah sebuah idiom. Bola selalu menggelinding. Semua permukaan bola pasti pernah merasakan pernah di atas dan juga pernah di bawah.
Mungkin itulah yang terjadi pada klub favorit saya, Inter. Saya menyukai klub ini bukan karena ingin terus melihat sebuah tim meraih juara. Saya mulai menyukai klub ini pada tahun 2002, saat bola yang dipegang pasukan Inter sedang menggelinding ke bawah.

Saat itu Inter sedang mengalami paceklik gelar. Scudetto yang diidam-idamkan tak kunjung tiba sejak musim 1988-99, padahal berbagai pemain dan pelatih top selalu didatangkan oleh pemilik klub yang begitu ambisius, Massimo Moratti. Hasilnya? Nol besar. Inter selalu gagal menjadi yang terbaik di Italia, hanya bisa melongo begitu saja saat dua rival abadi, Milan dan Juventus bergantian meraih scudetto. Gelar Piala UEFA 1990–91, 1993–94, 1997–98 seakan tak sebanding dengan pengeluaran mereka.

Bukan Calciopoli
Banyak yang menuding prestasi Inter sejak tahun 2005 adalah berkah Calciopoli. Menurut saya itu tidak benar. Inter mulai mendapatkan gelar pada musim 2004-05. Saat itu mereka menaklukkan AS Roma di di final Coppa Italia. Ini terjadi sebelum kasus Calciopoli yang terkuak pada tahun 2006.
Kemenangan di Coppa Italia itu menjadi titik balik kejayaan Inter. Sejak saat itu tiap musim Inter selalu memastikan minimal satu gelar hadir. Termasuk prestasi fenomenal scudetto lima kali berturut-turut sejak musim 2005-06. Prestasi yang sebelumnya hanya bisa ditorehkan Torino dan Juventus beberapa dekade silam. Inter benar-benar menjadi tim yang sulit dihentikan.

Meskipun selalu sukses di kancah lokal, Presiden Inter Massimo Moratti tak pernah puas. Ia menginginkan titel yang lebih bergengsi, Liga Champions. Ambisi tersebut membuatnya mendatangkan pelatih yang berpengalaman, Jose Mourinho.

Musim 2009-10 lalu mimpi itu benar-benar menjadi kenyataan. Inter sukses menjadi yang terbaik di Eropa, bahkan merebut treble winners. Satu-satunya klub Italia yang bisa meraih prestasi tersebut. Bukan hanya itu, Inter melengkapi kesuksesan dengan meraih trofi lainnya, Piala Super Eropa dan Piala Dunia Antarklub. Lima gelar dalam setahun, inilah prestasi terbaik Inter sejak berdiri. Puncak kebanggaan saya sebagai Interisti.

Langsung Jatuh
Memang benar tak selamanya bola itu di atas. Setelah mencapai puncak kesuksesan tahun lalu, La Beneamata seperti terlena. Musim 2010-11 ini mereka berpeluang mengakhiri musim tanpa gelar. Tentunya sebuah hal yang ironis, setelah tahun lalu mendapat lima gelar.

Di kancah Liga Champions, mereka tersingkir secara mengejutkan oleh Schalke 04, di Serie-A mereka sudah tertinggal 8 poin dengan AC Milan. Satu-satunya peluang tersisa Inter hanyalah ajang Coppa Italia, tentunya trofi yang tak sepadan dengan nama besar Inter.

Inter seperti kembali ke musim 2003-04 lalu saat mengakhiri musim tanpa gelar. Tanpa mental juara dan sulit bersaing. Apa yang salah dengan Inter?

Mungkin pasukan Inter terlena dengan raihan sukses musim lalu. Lupa akan perjuangan membangun tim dari nol. Lupa begitu sulitnya meraih gelar sejak musim 1988-89. Mereka terlena dan akhirnya tak bisa menemukan karakter sebagai juara bertahan.

Demikian halnya dengan kehidupan kita. Saat kita mendapat banyak masalah, kita harus senantiasa bersabar dan juga terus berusaha dan berdoa agar mimpi-mimpi itu menjadi kenyataan. Saat apa yang kita impikan bisa tercapai jangan pernah terlena. Perbanyaklah bersyukur, dan ingatlah perjuangan yang sulit untuk
mendapatkan hal tersebut di masa lalu. Tak selamanya kita ada di atas, semua yang kita punya di dunia ini adalah kepunyaan-Nya dan sewaktu-waktu bisa diambil oleh-Nya termasuk harta atau pun kesuksesan kita.

Sebagai pendukung Inter, inilah saatnya loyalitas itu dibuktikan. Para Interisti mendukung Inter bukan karena ingin melihat tim ini menang. Kami akan terus mendukung tim ini walaupun dalam keadaan terpuruk sekalipun. Saya pun mulai mendukung tim ini saat sulit meraih gelar.
Kita harus selalu ingat bahwa: “Tak Selamanya Bola Itu di Atas”

Senin, 02 Mei 2011

Pemain Asing Indonesia Jadi Mualaf


Ada sebuah pertanyaan menggelitik yang diajukan kru Sabili saat saya diwawancara tahun 2010 lalu. Kurang lebih pertanyaannya begini, “Kalo pemain muslim      nasional ada gak yang kayak pemain internasional, berdakwah di  tengah aktivitas persepakbolaannya?

Menurutku sih banyak dong. Coba aja perhatiin, pemain asing yang sudah lama beredar di Indonesia banyak yang jadi mualaf. Salah satunya Cristian Gonzales, pemain naturalisasi Indonesia asal Uruguay yang menjadi aktor penting timnas Indonesia di Piala AFF 2010. Tentunya mereka jadi mualaf setelah melihat aktivitas kawan-kawannya yang mayoritas Muslim.

Gonzales banyak belajar Islam dari istrinya, Eva Nurida Siregar. Gonzales dan Eva bertemu di Cili dan menikah pada tahun 1995. Saat itu Gonzales masih beragama Katholik dan istrinya beragama Islam.
Kepindahan Gonzales tahun 2003 ke klub Indonesia PSM Makassar menjadi pintu hidayah bagi Gonzales. Ia banyak belajar dari masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim. Tanggal 9 Oktober 2003 Christian Gonzales memutuskan untuk masuk Islam atas dasar kemauan sendiri dengan disaksikan oleh ustadz Mustafa di Mesjid Agung al Akbar Surabaya. Christian Gerard Alfaro Gonzales kemudian diberi nama Mustafa Habibi. Nama Mustafa diambil dari guru spiritualnya, ustadz Mustafa sedangkan Habibi (cintaku) diambil karena rasa cinta sang istri amat besar kepada Christian Gonzales.
Islam memiliki kesan tersendiri bagi Gonzales “Karena di dalam Islam setiap ada sesuatu ada ucapan doanya seperti ketika masuk rumah mengucapkan assalamualaikum, ketika mau melakukan sesuatu diawali dengan basmalah, dan setiap melangkah dalam Islam selalu aja ada bacaan. Dan ini menjadi hati saya merasa tenang” Ungkap Eva mengutip ucapan Gonzales.

Mantan rekan setim Gonzales di Persik Kediri, Danilo Fernando juga memutuskan menjadi mualaf tak lama setelah merumpt di Indonesia. Begitu pun dengan pelatih nyentrik asal Moldova, Arcan Iurii.

Di kesebelasan lain ada pemain asal Brasil, Antonio Claudio (Persibom, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara), pemain asal Cile, Patricio Jimenez (Semarang United), dan Javier Rocha (Batavia Union). Keputusan mereka menjadi mualaf umumnya didorong keinginan sendiri, tanpa ada paksaan dari pihak mana pun.

''Tidak ada orang yang memaksa saya masuk Islam. Saya menjadi mualaf murni karena keinginan saya sendiri,'' ujar Danilo. Hal yang sama diakui Iurie. "Sebelumnya, aku lahir dan besar sebagai penganut Kristen Ortodoks. Kini aku serius menjadi pemeluk agama Islam. Pilihan ini bukan sekadar main-main," ucap Iurie.

                Sedangkan striker Delras Sidoarjo, Marcio Souza mengatakan dia sudahama tertarik untuk memeluk Islam. Karena selama empat tahun dia bermain di Indonesia yang merupakan negara Islam terbesar di dunia, juga ikut memengaruhinya. 

“Saya senang dan tertarik melihat kawan-kawan lain, selalu taat dan rutin beribadah kalau pas tiba waktunya shalat. Bahkan dalam perjalanan away, di tengah perjalanan sekali pun kawan-kawan tak lupa beribadah. Mereka seperti menemukan kedamaian saat beribadah,” katanya.

                Subhanallah, hidayah memang bisa datang dari mana pun, termasuk dari lapangan hijau.

(Buku sepak Bola dan Dakwah Islam halaman 52, klik gambar di kiri blog untuk memesan)

Minggu, 01 Mei 2011

Serunya Nulis Buku Club Chapter 4

Sekarang saya mau cerita dikit tentang pertemuan Nulis Buku Club Chapter 4 (#NBC4) yang bertempat di Pisa Cafe Mahakam Sabtu (30/4). Jadi begini, saya datang ke NBC soalnya penasaran banget sama orang-orang yang ada di nulisbuku.com. Terus saya juga kan udah nerbitin dua buku di nulis buku, yang pertama Terjebak di Bawah Sadar yang kedua Sepak Bola dan Dakwah Islam. Kalo penasaran ama bukunya bisa klik link di sebelah kiri blog ini.

Ini pertama kali saya mengikuti NBC. Sebelumnya saya pernah mengikuti NBC Bandung. Tapi acaranya cuma ngobrol-ngobrol doang ga ada sharing materinya, trus ga ada tim nulis bukunya. Makanya saya datang ke NBC yang di Jakarta karena ini resmi diadakan nulis buku.

Tadinya agak bimbang juga jadi ikut apa nggak. Apalagi Kamis saya masih di Bandung. Tapi karena ada panggilan kerja dari vivanews.com, ya sudah hari Jumat saya ke Jakarta dan ikut NBC hari Minggunya. Kebetulan bisa sempet kalo nanti siapa tau sibuk kerja.

Saya termasuk yang datang duluan, saat saya hadir baru ada empat orang. Tapi lama kelamaan banyak juga jadi ada sekitar 40 orang. Sebelum acara dimulai, ada perkenalan dulu satu persatu. Wah pas giliran saya nyebut baru keterima kerja di vivanews langsung pada tepuk tangan uy, hehe.

Sesi pertama ada materi "Writing in English" oleh Sita Sidharta. Bu Sita ini neranginnya canggih banget. Beliau menggunakan power point untuk menerangkan materi ini dari mulai cara mendapatkan ide, membuat paragraf, dan juga membangun karakter dalam sebuah cerita khususnya non fiksi. Selain itu juga beliau menguraikan langkah yang tepat dalam menulis dalam bahasa Inggris.

Hmm.. kalo saya sih jarang nulis pake English yah, paling waktu nulis abstrak skripsi. Hhe. Lebih sering justru translate dari Inggris ke Indonesia untuk keperluan berita, dulu di Tabloid Soccer, terus koran OLE dan nanti vivanews. Jadi menurut saya materi ini penting juga.

Lalu ada sesi tanya jawab. Saya bertanya cara menulis bahasa Inggris apakah harus ditulis bahasa Indonesia dulu atau langsung Inggris saja. Menurut beliau langsung saja bahasa Inggris karena banyak padanan kata bahasa Indonesia dan Inggris yang berbeda.

Selanjutnya ada pembacaan prosa dari Andi Gunawan. Prosa yang cukup menyentuh juga dan juga bikin merinding. Katanya dia akan segera meluncurkan bukunya di nulisbuku.com.

Terakhir ada materi Book Marketing dari Jed Revolutia. Dia sih tidak pake slide power point. Jadi kebanyakan cerita aja mengenai bukunya yang berjudul You Are Likeable. Sepertinya dia sudah melakukan promosi besar-besaran terhadap bukunya, sampai bikin versi e-book nya segala. Harus ditiru juga nih, soalnya saya agak kesulitan memasarkan buku.

Lalu terakhir sang owner nulis buku, Aulia Halimatussadiah atau biasa dipanggil mbak Ollie ikut berbagi cerita. Keren juga dia uy baru usia 28 tahun udah nerbitin 19 buku aja. Dia bertanya apa motif menulis. Dia sih ga malu-malu motif menulis adalah uang karena kita bisa kaya dengan menulis. Hmm.. bener juga yah, saya juga kan kerjanya ntar nulis di vivanews. com. Hhe..

Oke segitu aja review dari saya. Menarik juga acaranya. Saran saya sih jangan di akhir bulan soalnya dui lagi pas-pasan, terus jangan mahal-mahal dong tarifnya yang merakyat dikit :D

Oh iya ini ada foto dari #NBC4

Nyempil uy saya


wah saya paling ganteng di sini :D