Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Senin, 19 November 2012

Mengungkap Sejarah, 1921-22 Seharusnya Inter Degradasi?

Inter Milan tercatat sebagai satu-satunya klub Italia yang tak pernah terdegrasi ke Serie B. Hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Interisti. Inter selalu bermain di kasta teratas Italia.

Namun ternyata, di zaman nenek moyang kita, Inter pernah mengalami fase yang sangat buruk. Tepatnya pada musim 1921-22. Inter berada di posisi juru kunci klasemen grup B (peringkat 12) dengan 11 poin dari 22 pertandingan. La Beneamata hanya mampu 3 kali menang, 5 imbang, dan 14 kali kalah. Lihat klasemen akhirnya di sini.

Fakta ini tiba-tiba saja menjadi perbincangan bagi Juventini akhir-akhir ini. Mereka menyebut Inter seharusnya terdegradasi, namun tak jadi karena ditolong oleh Federasi Sepakbola Italia (FIGC). Benarkah demikian?

Mengatakan hal tersebut sepertinya tak mau tahu apa yang sebenarnya terjadi. Di musim 1921-22 terjadi dualisme di Liga Italia. Bisa dikatakan sama dengan kondisi di Indonesia saat ini, di mana terdapat 2 kompetisi, Indonesia Super League (ISL) dan Indonesian Premier League (IPL).

Pada tahun 1921, Inter termasuk salah satu tim yang keluar dari FIGC dan mengikuti liga yang dibentuk oleh C.C.I (Confederazione Calcistica Italiana). C.C.I merupakan organisasi tandingan FIGC (Federazione Italiana Giuoco Calcio) yang dibentuk oleh tim-tim yang meminta rencana pengurangan anggota Liga Italia. Sama seperti KPSI di Indonesia sekarang.

Sejak awal, CCI ini tak jelas format degradasi dan promosinya. Sama halnya saat IPL pertama kali dibentuk, tak jelas apakah ada degradasi. Ingat ini liga tandingan. Tak mungkin langsung ada degradasi.

Nah, meskipun Inter berada di peringkat buncit, memang tak ada degradasi saat itu. Liga CCI ini akhirnya bubar dan dibentuk semacam play-off untuk bermain di musim 1922-23 di kompetisi resmi FIGC.

Inter harus mengikuti fase Spareggi (Babak kualifikasi pen-degradasi-an), dan Inter berhasil lolos kembali bermain di kompetisi teratas Italia setelah mengalahkan SC Italia-Milan 2-0 kemudian Libertas Firenze dengan agregat 4-1 (3-0 & 1-1) di kualifikasi Spareggi tersebut. Inter pun berhak bermain di Primera Divisione 1922-23.

Jadi yang patut digarisbawahi di sini Inter tak pernah degradasi. Di musim tersebut ada dualisme, dan memang pada awalnya tak ada format degradasi-promosi.

Sistem yang digunakan saat itu pun bukan Serie A yang kita kenal sekarang. Ada dua wilayah, utara selatan. Lalu tiap wilayah pun ada beberapa grup. Mungkin mirip dengan sistem Perserikatan dan Galatama di Indonesia dulu.

Serie A dengan format degradasi-promosi baru diperkenalkan di musim 1929-30. Ini format profesional dengan sistem satu wilayah. Dan total Inter telah 96 musim bermain di Serie A tanpa pernah merasakan Serie B.

So, berbanggalah menjadi Interisti!

23 komentar:

  1. thanks atas infonya yah kawan.. :D

    BalasHapus
  2. ditunggu postingan bermanfaat berikutnya sob.

    BalasHapus
  3. JELAS BANGET, yg nama nya posisi BUNCIT...

    seharusnya, di DEGRADASI ...
    pakai istilah petisi dan perubahan aturan yg mendadak !!!

    BalasHapus
  4. venezia yang jadi tumbal..

    BalasHapus
  5. Sok Pintar lo..lah kok Venezia yg posisi 3 dari terakhir n bebas degradasi justru di degradasi..dongo lo..pake ISL n IPL...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Venezia kan playoff juga bos
      Tapi kalah ama Sastrese trus Sastrese kalah ama Spezia. jadi Spezia yang lolos ke Liga Utama

      http://en.wikipedia.org/wiki/1922%E2%80%9323_Prima_Divisione

      stress semua yah yg komen udh jelas-jelas juga ckckc

      Hapus
  6. semua yang 3 peringkat terbawah emang ikut playoff kali. ya wajar aja emang kondisinya sama kayak ISL IPL sekarang -___-Vicenza yang peringkat terbawah grup A juga playoff. Mana ga ada yang bela VICENZA wkwkw

    BalasHapus
  7. Initinya juventus bodoh dan licik sama hal nya seperti pendukungnya (tolol) *seruput kopi

    BalasHapus
  8. Saya Interisti...

    Salam hormat buat sesama suporter liga Itali.

    Jadi dulu Itali juga punya permasalahn yang sama seperti yang dialami Indonesia beberapa tahun silam dan sampe sekarang. yakni dualisme kepemimpinan, PSSI dan IPL.
    Entah PSSI terinspirasi dengan kejadian ini ato tidak, karena pengambilan keputusan PSSI mirip dengan keputusan yang dilakukan FIGC dan CCI, yakni mengadakan playoff.

    tepatnya dan garis besarnya seperti ini:

    "Pada tahun 1921, Inter termasuk salah satu tim yang keluar dari FIGC dan mengikuti liga yang dibentuk oleh CCI (Confederazione Calcistica Italiana).[12] CCI merupakan organisasi tandingan FIGC (Federazione Italiana Giuoco Calcio) yang dibentuk oleh tim-tim yang meminta rencana pengurangan anggota Serie A dan perbedaan pendapat antara klub besar dan kecil mengenai struktur liga nasional di Italia.[13] Inter berada dalam grup B dalam liga tersebut. Setelah hanya mampu mengumpulkan 11 angka, Inter berada di posisi terbawah klasemen akhir.[14]

    Hanya bertahan satu musim akhirnya CCI bubar karena akhirnya dicapai persetujuan dengan FIGC melalui petisi yang dilayangkan oleh Direktur harian La Gazzetta dello Sport yakni Emilio Colombo[15] dan dikenal dengan petisi Comprommeso Colombo. Tim-tim yang berlaga di liga CCI pun bergabung kembali dalam FIGC, yang mengakibatkan format dan kompetisi disusun ulang dengan menggabungkan tim-tim yang berlaga di liga CCI dan Serie A FIGC sesuai dengan poin-poin kesepakatan dalam petisi tersebut. Karena Inter berada di posisi terbawah sehingga Inter harus mengikuti fase Spareggi (Babak kualifikasi pen-degradasi-an), dan Inter berhasil lolos kembali bermain di kompetisi Serie A setelah mengalahkan SC Italia-Milan 2-0 kemudian Libertas Firenze dengan agregat 4-1 (3-0 & 1-1) di kualifikasi Spareggi tersebut.

    Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/F.C._Internazionale_

    BalasHapus
  9. Nah ini komentar paling cerdas

    BalasHapus
  10. Namanya jg kesayangan figc..la beneamata lo soek

    BalasHapus

ada komentar? silakan tuliskan.. hatur nuhun
(kalo yg nggak punya blog pilih yang name/URL, URL-nya dikosongin aja, okay?)