Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Jumat, 04 November 2016

Wawancara Riedl, Sosok Ramah dan Murah Senyum


Selama ini sosok Alfred Riedl dikenal sebagai pelatih yang sulit sekali tersenyum. Setiap Indonesia bertanding, entah kalah atau menang, rasanya jarang sekali melihat Riedl tersenyum. Tapi, hal yang berbeda saya lihat dari sosok Riedl saat wawancara ekslusif di Hotel Aryaduta, Karawaci, Tangerang, 28 Oktober 2016.



Saya sedikit bercerita mengenai pertemuan saya dengan Riedl. Saya mendapat tugas dari bos saya untuk mewawancarai tokoh sepakbola secara eksklusif. Atas rekomendasi teman-teman, akhirnya pilihan jatuh pada Alfred Riedl. Karena sebentar lagi akan dimulai Piala AFF, jadi rasanya momennya sangat pas untuk mewawancarai pria asal Austria tersebut.



Saya pun mengirim email kepada Riedl. Saya sebenarnya tak terlalu yakin Riedl akan menjawab. Soalnya, dia begitu sibuk dan saya juga belum pernah bertemu langsung dengan dia.



Tapi, ternyata, Riedl membalas. Saya dipersilakan bertemu dengannya di Hotel Aryaduta, Karawaci, Tangerang. Walah, saya benar-benar buta soal Tangerang. Antara senang dibalas Riedl, tapi bingung juga bagaimana harus ke sana.




Awalnya saya mencoba layanan GrabHitch, layanan nebeng baru dari Grab. Lumayan, ada potongan 20 ribu, ke Tangerang hanya Rp35 ribu. Sebelumnya, saya sempat dapat dan sudah sms dari si driver. Tapi, tiba-tiba sang driver meng-cancel satu jam sebelum keberangkatan.



Alhasil, saya pun harus pakai transportasi alternatif. Setelah tanya sana, tanya sini, pilihan pun jatuh pada KRL. Naik grabbike ke stasiun Jatinegara, dan dari situ akhirnya naik KRL.



Dari Jatinegara, transit di Manggarai, setelah itu berlanjut ke Stasiun Tanah Abang. Dan dari sana, berhenti di Stasiun Rawa Buntu. Dari sana, naik Go-Jek menuju Hotel Aryaduta.



Ternyata, dari Rawa Buntu, semua ojek online menunggu di atas fly-over. Ada kesepakatan dengan ojek pangkalan di sana, jika ojek online tak boleh turun sampai ke bawah stasiun.



Perjalanan ke Aryaduta ternyata lumayan jauh juga. Saya sempat ngobrol-ngobrol dengan sang driver. Rupanya doi mantan satpam GBK. Sempet cerita soal Rangga, bobotoh yang tewas di laga Persija vs Persib, 27 Mei 2012. Dia rupanya yang gotong almarhum rangga sampai ke rumah sakit.



Akhirnya sampai juga di Aryaduta jam 16.40. Alhamdulillah ga telat. Katanya Riedl bakal ninggalin walaupun hanya telat semenit.



Jam menunjukkan pukul 18.40. Ke mana Riedl, belum datang juga. Saya deg-degan. Apa saya salah tempat. Saya konfirmasi benar ini lobi aryaduta. Dan akhirnya saya meminta resepsionis untuk menghubungi Riedl agar segera turun.



Dan akhirnya Riedl pun turun. Ternyata ada sedikit miscommunication. Riedl menanyakan, mengapa saya tak me-reply emailnya. Saya kira, tak perlu reply, si coach ini sudah pasti datang. Yah, sudah, saya akhirnya minta maaf dan Riedl pun bisa tersenyum. “It’s Ok, Its Ok” Alhamdulillah kata saya dalam hati.



Wawancara pun dimulai. Pertanyaan sudah disiapkan. Yah, Alhamdulillah Riedl mengerti walau saya bahasa Inggrisnya rada belepotan. Maklum jarang dipake, sempet dikatain Valentino Rossi, Malaysian English, waktu liputan di Malaysia.



Tapi, so far dia mengerti dan semua jawabannya cukup memuaskan. Ingin tahu seperti apa jawabannya? http://fokus.news.viva.co.id/news/read/844353-riedl-indonesia-belum-juara-aff-karena-memang-belum-bagus



Saat saya tanya, “Apakah ini kesempatan terakhir Anda di Timnas” “Yes, this will be my last chance,” katanya sambil tersenyum.

Setelah wawancara saya memintanya untuk berfoto bersama. Riedl senyum, malah saya yang ngga haha. Deg degan dan cape juga soalnya sampai akhirnya bisa wawancara.

Oh iya di belakang saya, ada tiga pemuda yang setia menunggu. Keliatannya mau banget difoto bareng Riedl. Tapi, selesei wawancara Riedl malah langsung pergi. Sabar ya nak.





Setelah wawancara, shalat magrib, dan pulang. Rutenya sama kayak pas berangkat biar ga jadi anak ilang, hehe. Dan Alhamdulillah sampai di kosan sekitar 21.30 disambut istri tercinta.